Presipitasi #4

“Selesai.” kataku sambil menutup bolpoin, lalu menyerahkan beberapa lembar kertas laporanmu.

Kamu meraih kertas-kertas itu tapi tidak memasukkannya ke dalam tas. Kamu meletakkan begitu saja kertas-kertas itu di sampingmu. Aku sudah tak peduli, aku ingin segera menjauh darimu saat itu.

“Kamu mau ke mana?” cegahmu saat aku berdiri.

“Mau rapat redaksi, anak-anak sepertinya sudah menunggu.” jawabku mencoba sesantai mungkin.

“Bukankah masih lima belas menit lagi? Duduklah sebentar, aku belum selesai cerita.” katamu sambil membenarkan kacamata.

“Hfff..” kutarik nafasku pelan, lalu duduk, menurutimu. “Kamu sebenarnya mau cerita apa sih? Bukannya kamu tadi bilang sayang sama Bintan? Terus apa masalahnya? Aku tahu Bintan lebih dari sekadar sayang sama kamu. Jadi, tak usahlah khawatir kamu akan kehilang..”

“Iya.. Aku ini benar-benar sayang Bintan.” kamu memotong kalimatku. Intonasi bicaramu terdengar kontras dengan kalimatmu. Bagiku, kalimatmu itu seperti pernyataan yang jika dibenarkan sedikit intonasinya menjadi sebuah pertanyaan.

Aku diam saja, alisku mengerut, bertanya.

“Aku ini benar-benar sayang Bintan?” kali ini kamu lebih menegaskan intonasimu, bahwa kamu sedang bertanya.

“Itu bertan..?”

“Apa sayang kamu?” kamu cepat-cepat memotong kalimatku.

Aku diam. Bingung. Tapi, entah kenapa juga ada perasaan marah. Mungkin kamu membaca itu dari ekspresiku.

“Hahaha, bercanda lah. Nggak, aku sayang Bintan kok.” katamu akhirnya, sambil tertawa.

“Apa masalahnya?”

Dreeet. Dreeet. Dreeet. Handphonemu bergetar. Entah dari siapa. Kamu menjauh dariku untuk menerima telepon itu. Lalu, kembali lagi dengan sebuah pamit yang terburu-buru.

“Aku belum bisa bercerita hari ini sepertinya.” katamu sambil memberesi kertas-kertas laporan.

“Huft..”

“Maaf ya, masih susah sekali menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aku perlu waktu, tapi aku pasti cerita. Aku harus pergi sekarang.” kamu cepat menggendong tas, berjalan cepat menuju parkiran.

Aku justru diam di tempat. Tidak menjawab pamitmu. Di ruang redaksi yang kelihatan dari tempatku duduk, aku melihat teman-teman sudah berkumpul. Tapi rasanya urung ke sana. Aku justru diam, sampai Tasya datang, mengajakku untuk segera ke ruang redaksi. Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku ingin menangis detik itu. Aku ingin pulang saja.

“Farikha, ada satu rubrik yang bermasalah di fotonya, padahal kan besok harus sudah naik cetak.” salah seorang anggota redaksi menanyaiku. Aku masih linglung. Sejak tadi, aku hanya mengikuti saja arah kaki Tasya melangkah. Ah, pemimpin macam apa aku ini. Untung saja, angin sadar segera menjamah sarafku yang tadi mendadak “teracuni” oleh endapanmu. Namun, saat itulah…

Braaaaakkkk!!! Keras sekali suaranya.

Aku berusaha tidak peduli.

“Teman-teman, maaf saya sedikit terlambat. Kita mulai saja rapat kita hari ini, ya. Termasuk membahas foto yang rusak dan kekurangan-kekurangan lain sebelum naik cetak.”

Bug gedebug gedebug. Suara sepatu dan langkah-langkah cepat terdengar. Kali ini memaksaku menoleh ke jendela. Ada apa? Anggota redaksi yang lain juga menoleh. Sama penasarannya sepertiku.

“Bukan gempa kan?” ucap Tasya pelan, disambut tawa teman-teman yang lain.

“Sudah. Tidak akan ada apa-apa. Mungkin ada sesuatu yang jatuh saja di halaman depan.” Aku berusaha menenangkan.

Sesuatu? Aaah, bodoh sekali aku. Iya, memang ada yang jatuh. Bukan di halaman sekolah, tapi tidak jauh dari itu.

“Eh, emang ada apa sih?” Tasya memaksa menghentikan salah seorang siswa kelas X yang kebetulan berlari melewati ruang redaksi. Aku menulis beberapa agenda rapat di papan tulis, tapi telingaku ikut mendengarkan. Aku pun sesungguhnya juga penasaran, sama seperti anggota redaksi lain.

“Ada anak kelas XI, cowok, jatuh di depan. Tadi dia kenceng banget ngendarain motornya.” jawab anak itu singkat, ia kemudian berlari lagi.

Tasya mengikuti. Begitupun anggota redaksi yang lain. Aku saja yang tertinggal. Air mata yang dari tadi tertahan sekarang menderas begitu saja.

Kamu yang jatuh. Motormu menabrak trotoar jalan. Keras sekali. Bahkan suaranya terdengar hingga ke ruang redaksi yang masih berjarak 100 meter dari pintu gerbang sekolah. Bodoh sekali aku. Apa yang terjadi padamu? Apa yang akan kamu lakukan? Siapa yang meneleponmu tadi sehingga membuatmu pamit tergesa-gesa, lalu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Hei, kamu itu sebenarnya kenapa?

Itu endapan selanjutnya yang kamu tinggalkan. Penaka sebuah praktikum, maka endapan yang kamu tinggalkan hari itu adalah sebuah reaksi tak terduga atas senyawa-senyawa yang kaupadukan. Endapan itulah, yang membuat endapan lain semakin mudah mengendap. Lalu menumpuk.

Last edited,

Pojok Biru 2,

16 Maret 2012

22.21 WLH

*still to be continued

Advertisements

2 thoughts on “Presipitasi #4

    • Ini umi tmen dr smp 3 kah?
      Waw waw.. Ada sebenernya,tp blum berani post. Hehe. Semoga makin byk yg tanya lanjutan cerita ini makin semangat nulisnya..
      Makasih ya sudah berkunjung 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s