Menangis Diam-Diam

Kapan terakhir kali kamu menangis diam-diam? Ketika merindu pada Ibu? Ketika ingin menggenggam tangan Ayah yang kekar? Ketika diam, mengingat kesalahan demi kesalahan pada-Nya? Ketika kesal tiba-tiba menggerogoti hati atas ketidakmengertian orang lain pada kita? Ketika jenuh dengan semuanya? Ketika hati terasa hambar tanpa kita mengerti sebabnya?

Kapan terakhir kali kamu menangis diam-diam? Aku terakhir kali menangis diam-diam, tiga detik yang lalu, ketika aku merasa bersyukur. (Bukan diam-diam lagi, karena akhirnya aku bercerita melalui huruf-huruf ini). Aku merasa bersyukur, diantara rinduku pada Ibu, Allah masih memberinya rasa sabar dalam mendidik anak-anaknya. Aku merasa bersyukur, di antara keinginanku menggenggam tangan Ayah yang kekar, Allah masih memberinya kesehatan untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai ayah. Aku merasa bersyukur, di antara banyaknya kesalahan-kesalahanku yang membuat hati menyesal, Allah masih mengingatkanku atas itu semua, semoga aku bisa belajar dari semua kesalahan itu. Aku merasa bersyukur, di tengah kesal atas ketidakmengertian orang lain padaku, aku masih memiliki mereka, yang mewarnai hari, yang memberikan kebahagiaan jauh lebih besar jika dibandingkan ketidakmengertiannya. Aku merasa bersyukur, di antara jenuh yang mengendap dan perasaan hambar, Allah masih mengizinkanku untuk mengingat-Nya. Diam di hadapan-Nya. Hanya Dia yang mengerti.

Tuhan, izinkan aku menangis diam-diam.

Pojok Biru 2,

13 Maret 2012

21.40

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s