Ketika Hati Merasa Bersalah

Aku diam saja. Di tengah lelah, beraktivitas di organisasi, belajar, bercerita bersama sahabat, menangis diam-diam, menunggu seseorang, merindukan banyak orang dan banyak hal, juga merenung. Istighfar berkali-kali kudesahkan pada-Nya. Duhai, Dia pasti yang paling mengerti.

Tidak seharusnya memang banyak hal itu kita biarkan memenuhi pikiran kita. Tidak seharusnya perasaan terus-terusan merasa bersalah atas setiap kata yang telah terucap, atau setiap tindakan yang sudah terjadi. Tidak seharusnya perbedaan cara pandang menjadi ganjalan yang menyendat langkah. Tidak seharusnya, kita terus merasa perkataan maaf tidak cukup untuk melebur dosa. Namun sudah seharusnya, kita belajar dari itu semua.

Duhai, sungguh indah Dia menciptakan makhluk-Nya dalam wajah dan karakter heterogen. Sungguh indah bermacam cara pikir yang berbeda. Sungguh indah, sehingga itu semua saling berkombinasi membentuk bermacam peluang yang kompleks. Menimbulkan perasaan bahagia, mengisahkan kesedihan, penyesalan, bersalah, merindu, marah, prasangka, anggapan, keraguan, komentar, perselisihan, juga pendewasaan. Biarkan saja. Memang akan seperti itu yang terjadi. Tapi marilah kita belajar, bahwa berhusnudzon (berbaik sangka) jauh lebih menenangkan daripada terus-terusan resah menerka kemungkinan buruk, tanpa memikirkan solusi.

Duhai, hati. Entah kali ini hati yang bersalah, atau logika yang menguat tak seimbang lagi. Mengertilah bahwa memaafkan diri sendiri itu hal yang penting. Memaafkan diri sendiri itu memang terkadang lebih susah dari memaafkan orang lain, tapi tanpa memaafkan diri sendiri, kita akan terus tersendat, terjebak dalam perasaan bersalah yang mengakar.

Wahai, diri. Di tengah ambisi yang masih meluap dan pertarungan hati yang terus meredamnya, menjadi kuatlah engkau. Bermentallah lebih kuat dengan itu. Berterima kasihlah pada nasihat dan kritik yang membangun, bahkan yang tidak membangun. Menjadi lebih baiklah selanjutnya. Buang rasa bersalah kepada apa dan siapa, maafkanlah diri sendiri.

Renungan.

Pojok Biru 2,

13 Maret 2012

21.25

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Hati Merasa Bersalah

  1. “Memaafkan diri sendiri itu memang terkadang lebih susah dari memaafkan orang lain, tapi tanpa memaafkan diri sendiri, kita akan terus tersendat, terjebak dalam perasaan bersalah yang mengakar” aaaa suka kata-katanyaaaa 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s