Presipitasi #3

terima kasih buat yg sudah baca RAGU#1 dan Presipitasi#2 . Ini lanjutannya πŸ™‚

Kenyataannya, harapan itu termemori. Seperti sebuah album yang terbuka, harapan yang menggumpal bersama endapan-endapan yang kamu kisahkan itu menceritakan kisahnya sendiri. Endapan itu, entah sejak kapan ada, tapi dia terbentuk tanpa kamu sadari.

“Aku boleh bercerita?” katamu siang itu, di tengah riuh sorak siswa SMA kelas XI usai pelajaran.

“Sama aku?” tanyaku polos.

“Tentu saja, aku kan bicara sama kamu.”

“Baiklah. Hari ini juga ada rapat redaksi, sekalian menunggu teman-teman istirahat. Bolehlah aku mendengar ceritamu dulu. Daripada kamu nangis.” aku bercanda. Sengaja. Kamu pasti ingat kan, kalau kamu adalah objek ledekan-ledekanku. Ah, bukan kamu saja. Semua anak di kelas juga. Jadi, memang tidak ada yang spesial jika saat itu aku dan kamu dekat. Toh, bukan hanya tentang aku dan kamu.

“Di mana?” kamu tidak menanggapi candaku. Wajahmu itu sudah tampak kusut sekali. Kamu justru bertanya. Aku bingung menjawabnya.

“Di sana sajalah.” kamu sepertinya tahu aku mulai bingung, maka kamu menunjuk saja salah satu bangku yang bertengger di koridor kelas.

Kamu berjalan, aku mengikuti saja. Kamu duduk, ingin aku mengikuti duduk, tapi urung. Aneh.

“Berdua saja?”

Kamu tidak menjawab. “Aku ngajak Tasya boleh?” Aku justru bertanya lagi. Hendak mengajak Tasya pula, teman baikku, juga teman baikmu. Toh, biasanya kita juga bercerita bersama. Tidak pernah berdua seperti itu.

“Jangan. Aku beneran mau cerita. Aku nggak bisa didengar orang banyak. Biasanya malah tidak ada yang mendengarkan. Tapi kali ini, aku pengen didengar.”

Aku diam saja, duduk di sebelahmu, sengaja mengambil jarak. Ingin didengar? Mengapa aku? Cepat-cepat saat itu aku menghapus pikiran aneh-aneh. Bukan hanya kamu pula laki-laki yang bercerita padaku kan? Sekali lagi, beberapa anak di kelas juga mempercayakan ceritanya padaku. Jadi, tidak ada yang spesial.

“Baiklah. Ada apa? Tentang seorang gadis?” aku langsung saja menerka. Apa sih yang membuat anak SMA resah jika bukan masalah hati?

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku jenuh. Aku pengen kayak anak-anak lain.”

“Apa bedanya kamu dengan anak-anak lain? Sama saja. Kamu hanya punya nilai lebih dengan seabrek aktivitasmu itu.”

“Bukan pula tentang itu.”

“Lalu apa? Hei, Razif. Semua orang melihatmu sempurna, kenapa kamu justru mengeluh dengan itu?”

Aku hanya sok menasihati saja waktu itu. Aku tahu, membagi waktu antara pelatihan OSN (Olimpiade Sains Nasional) Kimia, organisasimu sebagai Wakil Ketua OSIS, juga pelajaran sekolah, tentu saja terkadang menjenuhkan.

“Seperti reaksi yang kamu pelajari, semua ada titik jenuhnya bukan? Nanti kamu juga akan semangat lagi kok.” kataku, lagi-lagi sok bijak.

“Kamu itu perempuan paling ceria ya di kelas? Kadang-kadang bingung sendiri sih, bingungnya kayak anak kecil lagi. Aneh.”

“Yee, kalau aneh kenapa hari ini mau cerita sama aku. Udah mau cerita itu aja?”

“Bantuin aku nyelesain laporan praktekku ya?”

“Beeeeuh. Sama ajaaaa.. Tau gitu aku ngajak Tasya deh.”

“Bentar aja, aku masih mau cerita kok. Bukan itu inti ceritanya.” perbincangan seperti itu yang sering terputar tiba-tiba di otakku.

“Ya sudahlah.. Mana, cepet.” kamu mengeluarkan beberapa lembar kertas. Seperti biasa, kamu menjadikanku asistenmu. Sebenarnya kertas-kertas itu sudah penuh dengan berbagai rumus dan angka, tapi kamu selalu malas menghitung. Bukan malas, tapi kamu melakukan semuanya serba cepat. Urusan menghitung selalu menjadi urusan nanti untukmu. Mungkin itu pula, yang membuatmu tidak bisa menghitung berbagai kemungkinan tentang hatimu. Atau kamu hanya menghitung tapi belum menuliskannya?

“Kha..” katamu memanggilku.

“Hmm..” aku masih konsen pada angka-angkamu.

“Menurut kamu konsep sayang itu bagaimana?”

“Perhatian, peduli, baik hati, mengerti.” asal saja aku menjawab, masih fokus pada angka-angka. Huft, sejujurnya, huruf jauh lebih menarik bagiku daripada angka.

“Oh, umum. Kamu udah pernah punya pacar?”

“Ah, nggak penting. Nggak usah punya aja.” kataku sambil tertawa kecil, masih fokus pada angka-angkamu.

“Oh ya? Kenapa?” kamu tampak penasaran.

“Prinsip aja.”

“Prinsip apa? Kamu tahu tentang sayang darimana?” kamu semakin penasaran.

“Dari orang tua, dari sahabat, dari kamu misalnya.” Aku sedikit menelan ludah. Bohong. Aku tahu, definisi sayang yang kamu maksud bukan itu. Tapi aku belum pernah mengerti tentang itu. Jika tadi aku mendefinisikannya, aku hanya mengarang saja, sepengetahuanku, seperti kisah-kisah yang ada dalam novel-novel teenlit.

“Oooh, aku sayang Bintan.” katamu tiba-tiba. Tanganku seketika berhenti memainkan angkamu, padahal satu angka lagi, laporan-laporan itu selesai.

Β “Tentu saja. Dia kan pacarmu.” kataku akhirnya, sambil pelan-pelan menulis angka tujuh, angka terakhir.

Itu endapan pertama yang kamu tinggalkan. Endapan yang menekan suatu ruangan kosong di hatiku, mencairkan air mataku yang tak pernah tersentuh oleh itu. Entah apa namanya, tapi aku menangis mendengar kamu mengatakannya.

Pojok Biru 2,

7 Maret 2012

8.42 WHH

still to be continued

Advertisements

4 thoughts on “Presipitasi #3

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s