cerpen: RAGU #1

“Hei, kamu.” dia memanggilmu.

“Aku?” kamu mulai bingung mengapa dia memanggilmu, wajahmu pasi, tapi kamu datang saja memenuhi panggilannya.

“Iya, kamu. Kamu menyayanginya?”

Pasti kamu tambah bingung dengan pertanyaan itu, lalu air mukamu itu penuh tanda tanya, tapi tetap saja, wajahmu tenang walau ada tanda tanya di sana.

“Aku menyayangi siapa? Ibuku? Tentu saja iya. Bapakku? Apalagi bapakku, dia yang mengajariku menjadi jagoan.” jawabmu santai.

“Bukan.” dia tidak kalah santai, malah menyelingi pula dengan tawa kecilnya.

“Teman-temanku? Tentu saja. Mereka itu penaka bintang-bintang untuk langit malam. Banyak. Kerlipnya indah.” kamu tiba-tiba sok puitis membicarakan bintang. Dia makin tertawa saja.

“Bagus kalau kamu sayang teman-temanmu.”

“Jadi itu yang kamu tanyakan?” kamu hampir beranjak.

“Hahaha..Bukan pula.” dia tertawa lagi. Kamu terlihat kesal dengan ekspresi itu.

“Ah sudahlah, kenal saja tidak aku denganmu.” kamu benar. Siapa pula lelaki itu. Menunggumu di jalanan depan kampusmu, lalu sok tau pula tanya-tanya tentang sayang. Kamu hampir beranjak lagi. Sudah satu langkah. Bunga teratai di kolam pinggir jalan itu daunnya bergoyang, terkena lemparan bebatuan kecilmu.

“Farikha.” dia malah yang beranjak duluan, sengaja sekali menyenggol lengan baju kotak-kotakmu. Kamu diam sekarang.

“Kamu kenal dia?” langsung saja kamu menarik tangannya yang belum jauh.

“Kamu menyayanginya?” lagi-lagi dia bertanya tentang itu.

“Untuk apa kamu menanyakannya? Kamu mengenalnya?” kamu mulai terlihat cemas.

“Aku hanya tanya, kamu menyayanginya?” dia masih saja santai.

Mengapa kamu diam? Iya, kamu hanya diam. Hanya air muka khawatir yang terbaca dari garis-garis wajahmu itu.

“Tidak usah bingung kalau memang iya. Mari bersalaman.” dia mengulurkan tangannya. Ragu-ragu kamu hendak mengulurkan tangan padanya pula. Mungkin kamu masih bingung, siapa dia berani-beraninya menanyaimu tentang sayang. Berani mengajak bersalaman pula. Tapi kamu menyambut uluran itu.

“Aku Rizan. Senang akhirnya bertemu Razif. Kamu Razif bukan? Ah, nanti jangan-jangan aku salah orang.” dia masih saja berusaha berjenaka, padahal tanganmu kaku sekali ketika bersentuhan dengan tangannya.

“Ah, tentu saja aku tidak salah. Alis kananmu itu tidak berbohong.” belum sempat kamu menjawab, dia terlebih dahulu menyahut. Kamu melepaskan tangannya. Tanda yang kamu transmisikan dari matamu terbaca dengan sangat rapi olehnya. Kamu masih saja terdiam, lalu menyentuh alis kananmu. Bekas luka itu? Bagaimana dia tahu? Tentu saja kamu bingung. Tapi mengapa kamu hanya diam? Hanya olah tubuhmu yang dari tadi menjawab pertanyaan-pertanyaan berani darinya. Hei, kamu, di mana keberanianmu?

“Hei, kamu tidak ingin menanyaiku? Tidak penasaran denganku? Tidak ingin ngobrol mungkin. Ayolah, masa aku yang mentraktirmu di kampusmu? Aiih, aku kan juga mau ditraktir seorang presiden mahasiswa di kampus ternama negeri ini.”

Kamu makin terperangah. Dari mana pula dia tahu kamu seorang presiden mahasiswa.

“Ah, baiklah. Ayo kita jalan. Aku hanya kaget saja tadi kamu menyebut nama seseorang yang sudah lama tidak kudengar, apalagi di kampus ini. Kamu sepertinya bukan dari kampus sini, benarkah?” kamu sepertinya mulai mencair. Dia tersenyum lagi. Kamu dan dia berjalan beriringan.

“Farikha memang gadis yang unik.” dia memulai pembicaraan.

“Bukan, dia gadis biasa, sungguh biasa saja.” katamu menanggapinya.

“Ah, kalau bagimu biasa, mengapa kamu jatuh cinta padanya? Mana mungkin sudah 5 tahun tak melihatnya kamu masih menyayanginya.”

“Sebentar, kita perlu kenal lebih jauh dulu sebelum membicarakan itu,” kamu masih saja seperti dulu, selalu tertutup urusan hati. “Ayo kita makan dulu di kantin. Ini kantin favorit fakultas kami.”

“Baiklah.”

Kamu dan dia duduk bersebelahan. Wajahmu mulai tenang. Aura pemimpinmu kamu bawa lagi, setidaknya aura itu memang kamu perlukan hari itu untuk mengendalikan dirimu sendiri. Berhadapan dengannya pasti akan melelahkan. Dia memang tidak sejago kamu sampai menjadi seorang pemimpin mahasiswa. Dia hanya kakak favorit adik-adik. Tapi dia lebih gila darimu. Dia sama tidak banyak bicaranya sepertimu. Dia juga sama idealisnya sepertimu. Ah, tentu saja tidak semua sama. Lebih banyak tidak samanya malah, apalagi soal cara menyikapi hati.

“Jadi kamu satu tingkat di atasku?” tanyamu sambil menyeruput secangkir teh hangat.

“Hmm, begitulah.”

“Bagaimana kamu mengenalku?”

“Kamu aneh sekali. Tidak heran kan kalau aku mengenalmu? Seorang presiden mahasiswa bernama Muhammad Razif, yang kisah cintanya mungkin tidak diketahui oleh semua mahasiswa yang dipimpinnya.”

Kamu tertawa, “Apa gunanya mereka harus tahu? Ah, iya, maksudku kamu tahu memang soal itu?”

“Soal Farikha?”

Kamu tersenyum lagi, sedikit gagap tiba-tiba. Dia—lagi-lagi— bisa membaca jawaban “iya” yang tidak kamu katakan.

“Iya, aku tahu. Tentang kamu juga aku tahu.”

“Dia cerita padamu?”

“Kamu pikir Farikha bisa bercerita dengan teman-teman laki-lakinya selain padamu?”

“Memang iya?”

“Kamu tentu tidak tahu kan? Aah, sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengannya, apalagi bertemu. Kapan kamu terakhir berkomunikasi dengannya?”

“Kamu tahu juga soal itu?”

“Sebegitunya kamu fokus melupakan urusan perasaan kamu. Sebegitunya kamu fokus pada pengabdianmu. Aku salut padamu. Bahkan, sampai soal itu pun kamu bertanya padaku bagaimana aku tahu. Aku salut padamu.” Dia menyeruput teh hangatnya.

Kamu semakin bingung dengan itu semua. Ah, rupanya soal aku memang sudah benar-benar tak kautahui. Kamu benar dengan itu semua. Kamu benar dengan semua pengabdianmu itu. Tapi kamu lupa. Kamu terlalu percaya pada kekuatan hatimu. Ada satu hal yang kamu lupakan. Ya, mungkin kamu hanya lupa.

“Aku mau melamarnya, besok.”

Kali ini kamu diam lebih lama. Pandanganmu buyar. Entah apa yang ada di pikiranmu. Mungkin kamu hanya lupa kalau di antara kita tidak ada ikatan apa-apa. Mungkin kamu hanya lupa, kalau hati seorang manusia bisa dibolak-balikkan-Nya kapan saja Dia mau. Mungkin kamu hanya lupa, kalau aku belum menjadi milikmu.

“Aku datang ke sini hanya untuk itu. Bukan untuk minta izin, kamu toh bukan siapa-siapa Farikha. Kamu hanya sebuah nama yang disimpan di hatinya, yang kebetulan aku tahu soal itu. Aku hanya mengingatkan kamu, bahwa sudah bukan saatnya kamu diam seperti yang kamu lakukan lima tahun ini. Dia menunggumu. Ada tanggung jawab dari sebuah penantian. Terserah kamu apa yang akan kamu lakukan. Aku besok mau melamarnya, tidak peduli apa jawabannya.”

“Kamu berhak melamarnya. Kamu benar, toh aku belum bertindak apa-apa selama ini.”

“Sudah? Baiklah. Aku pamit. Terima kasih teh hangatnya.”

Kamu diam saja. Sudah? Kamu masih diam saja. Di mana kamu sekarang?

Rumah,

25 Februari 2012

13.40 WLH

*to be continued

Advertisements

6 thoughts on “cerpen: RAGU #1

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s