“Selamat Ulang Tahun, Ibu”

“Selamat ulang tahun, Ibu.”

Aku sedikit terbata-bata mengatakannya. Aku tahu, itu terdengar aneh bagimu. Mana pernah ada tradisi ulang tahun di keluarga kita, walaupun hanya sekadar sebuah ucapan. Aku tahu, tidak ada pula tradisi itu dalam ajaran agama yang kauajarkan. Tapi, biarkan. Sekali ini saja, Ibu, di usiamu yang ke-43, aku mengucapkan kalimat itu. Bukan tentang tradisi, bukan tentang esensi kalimat ‘selamat ulang tahun’ itu sendiri, semata-mata hanya karena aku ingin engkau merasakan seperti yang ibu-ibu lain rasakan dari anaknya, sebuah ucapan selamat dari anaknya yang jauh darinya karena sedang menuntut ilmu.

“Aaalah, inget aja.” suara Ibu tersipu malu di balik telepon. Ada nada bahagia yang juga terbata di sana. Sejenak, ada perasaan canggung merambati hati kami.

Bukan aku tidak pernah ingat Ibu, aku bahkan selalu menangis setiap tanggal 17 Februari tiba. Mengapa? Karena setiap tanggal itu, aku mengingat, jatahmu menemaniku di dunia ini sedang tepat berkurang. Sedangkan apa yang sudah kuberi untukmu, tidak akan pernah ekuivalen dengan apa yang kauberi untukku.

“Terus mau dikasih apa?” suaramu terdengar makin bahagia.

“Diberi cium dari jauh. Ibu ke sini dong.” aku mengeja kata-kata itu dengan balutan suara bahagia tapi penuh aliran air mata, dengan nada manja, seperti yang kuucapkan saat usiaku tujuh tahun.

Aku tahu, pertanyaan ‘terus dikasih apa’ itu hanya kamuflase. Nyatanya, ia takpernah meminta apapun dariku.

“Kamu ini. Masih aja manja. Nanti diminum jamunya. Besok kalau nggak bisa sarapan nasi, jangan dibiarkan perutnya kosong, isi dengan sereal atau dipaksa minum susu.”

Aku belum menjawab ‘iya’, Ibu sudah buru-buru melanjutkan, “jangan lupa makan sayur dan buah, biar bibir nggak kering.”

Aku mengangguk saja. Beberapa menit kemudian telepon selesai setelah ulukan salamku engkau jawab. Aku diam setelahnya.

Tidak ada yang ingin kuberi di hari usiamu tepat ke-43 ini, Ibu. Tidak ada pula lanjutan huruf yang akan kubariskan untukmu. Tidak ada pula cerita. Biarkan saja aku diam, Ibu. Merindumu ternyata candu. Ya, rinduku inilah, hadiah ulang tahun untukmu. Rinduku inilah kado yang kuberikan untukmu. Adakah yang lebih mengais perasaan selain rindu seorang anak kepada ibunya?

Maka biarkan saja, Ibu. Biarkan aku semakin mencintaimu di batas usiamu yang akan terus berkurang. Biarkan saja aku menjadi anak kecilmu lagi hari ini. Sungguh, merindumu adalah candu. Namun, kupersembahkan sebagai sebuah hadiah.

Ibu, aku tidak bisa berhenti merindu..

Pojok Biru 2,

17 Februari 2012

21.46 WHH

*baru sempat ngepost T.T

istirahat bukan berarti gaboleh buka laptop kan? 😦

Advertisements

2 thoughts on ““Selamat Ulang Tahun, Ibu”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s