Moga Kalian Disayang Allah

Anak-anak memang menggemaskan, tapi itu hanya satu dari sisi kebahagiaan yang mereka tawarkan. Jauh dari itu, ada janji masa depan yang mereka genggam.

Sudah lamaaa sekali tidak menulis catatan. Sudah lamaaa sekali hati dan tangan ini tiba-tiba terasa mati. Kosong sekali. Berusaha menulis tapi tidak pernah selesai. Macet. Itulah yang terjadi. Tapi Allah itu ada bukan? Maka Dialah yang lagi-lagi membuatku ‘bangun’. Maka Dialah yang kembali mengenalkanku pada satu rasa yang dulu begitu akrab bagiku. Ke-rin-du-an. Rindu untuk berbagi, walaupun hanya celoteh kecil. Rindu untuk bercerita tentang semua harapan kepada kalian. Rindu semangat kalian saat aku tiba-tiba kehilangannya..

Dan Dia pula yang membawa tanganku untuk membuka lagi sebuah novel, “Moga Bunda Disayang Allah”. Yap, semua cerita di dalamnya sempurna mengingatkanku kepada kalian. Ya, kalian. Kakak-kakak yang baik hati. Kakak-kakak yang mencintai adik-adik tanpa peduli tak ada setetes pun darah mereka mengalir di darahmu. Kakak-kakak yang istiqomah datang mengunjungi mereka selepas Magrib. (Aku bahkan jarang-jarang datang 😦 , nanti aku ceritakan protes mereka). Kakak-kakak yang semangat sekali susah payah mencari keperluan belajar agar adik-adik semakin nyaman dalam belajar. Dan yang terpenting, kalian selalu menyempatkan waktu untuk adik-adik. Aku iri dengan semangat itu, sedang semangatku sering sekali naik turun.

Ah, padahal wajah adik-adik itu selalu ngangenin. Lihatlah, sekarang aku pun sedang menggigit udara di celah rangkaian gigi atas dan bawahku karena merindukan mereka. Ya, terakhir kali aku datang sebelum liburan, mereka menangis. Mereka semua memelukku. Baiklah, sepertinya aku ingin mengenang lagi cerita malam itu. Mungkin juga kalian ada yang bertanya waktu itu, Kenapa? Kenapa menangis?”

Mereka menangis karena mereka tahu mereka telah menyakiti hati salah seorang kakak (namanya Kak Fika) yang malam itu menahan tangisnya menghadapi kenakalan adik-adik. Masalahnya klise sekali. Mereka cemburu atas kedatangan segerombolan anak baru yang datang di tempat belajar mereka. Mereka cemburu karena Kak Fika harus membagi sayangnya untuk adik-adik yang lebih banyak lagi. Tapi mereka belum mengenal apa itu cemburu. Yang jelas mereka benci dengan anak-anak baru itu. Maka mereka langsung menghambur memelukku ketika aku datang, seperti anak ayam yang menemukan induknya untuk mengadu. Bahkan mereka juga tidak suka ketika aku menyapa adik-adik yang juga baru hari itu kutemui. Mereka cemburu. Tapi tangis mereka kemudian pecah, menular dari satu anak ke anak lainnya ketika mengetahui Kak Fika sedih atas ulah mereka. Sekecil itu, mereka mengerti akibat atas perbuatan mereka. Aku sebenarnya sudah diliputi suasana haru ingin menangis juga. Tapi jelas kan itu tidak boleh terjadi? Maka aku berusaha ceria. Membujuk mereka untuk berhenti menangis, mengajak mereka untuk saling bermaafan, mengatakan kepada mereka bahwa Kak Fika tidak akan sedih lagi.

Ada yang menurut, ada juga yang masih sebal tidak mau saling meminta maaf. Ada pula yang mendekat ke arahku sambil menangis, “Kakak, aku belum minta maaf sama dia. Aku takut dia masih marah sama aku.” Tapi suasana itu meluruh kembali dalam haru ketika Kak Fika akhirnya memeluk mereka semua. Malam mengharukan itu pun berakhir dengan senyuman mereka lagi. “Kakak, makasih ya, besok datang lagi pokoknya.”

Sayang sekali, aku melanggar janji itu lagi. Aku pulang adik-adikku. Maaf ya.. Mungkin mereka akan protes lagi, seperti yang selalu mereka lakukan ketika aku melewati gang kecil tempat mereka bermain.

“Kak Himsaaaa, ntar ngajar ya. HARUS!”

“Kakaaak, kenapa kakak datangnya jarang?”

“Kakaaak, kakak sibuk banget ya? Yaah.. Apa bedanya sama Kak Ahsan, sibuk juga kan Kak? Kok Kak Ahsan selalu ke sini?”

Jleb. Semua kalimat kalian itu masih terngiang. Ada beberapa hal yang belum bisa anak kecil bahkan orang dewasa sekali pun untuk mengerti. Tapi aku tahu, aku memang harus lebih semangat lagi. Aku harus semangat lagi untuk cintaku pada anak-anak, yang di tangan mereka tergenggam janji kehidupan yang lebih baik. Seperti semangat kalian, Kakak-kakak.

Terima kasih kakak-kakak yang semangat. Terima kasih atas cintamu untuk adik-adik. Terima kasih selalu mengingatkanku untuk sekadar datang menyapa mereka. Moga kalian disayang Allah

..Dia mencintai anak-anak. Bukan! Bukan karena mereka terlihat menggemaskan, tapi karena menyadari janji kehidupan yang lebih baik selalu tergenggam di tangan anak-anak.. (KARANG, MBDA, 290-291)

Untuk Kakak-kakak di Masjid At-Taqwa

Untuk Kakak-kakak di Lingkar Pelangi

Untuk Kakak-kakak Telkom Mengajar

dan kakak-kakak lain yang selalu semangat mencintai adik-adik dengan segala keterbatasannya 🙂

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s