Sendiri tetapi Ditemani

Di antara perasaan-perasaan rindu yang merayap kepada rumah sederhanaku di sana, aku merenung, memohon perlindungan untuk yang berada di sana.
Di antara kesendirian-kesendirian yang kujalani malam ini, aku menengadah, mengucap syukur, masih ada bulan itu walau bersembunyi.
Di antara langit-langit yang menggelap di malam yang mendung ini, aku melihat, apakah hatiku sudah terang karena kelapangannya? 
Di antara pucuk daun yang mengibaskan embun yang terbawa angin, aku menggumam, masihkah angin mengalir dengan kesetiaannya?
Suara telepon dari wanita paling kusayang dan pria paling tegar dalam hidupku beberapa jam yang lalu terngiang, mengembalikanku menjadi sejenak sosok wanita rapuh, walaupun sudah berhari-hari membalut wajahnya dengan senyuman setegar karang. Abah, Ibu, aku menjadi tegar untukmu, serapuh apapun.
Aku ingin menjadi daun yang mengibaskan embunnya ketika tertepa angin, ikhlas, tetap menghijau indah.
Aku ingin terlepas dari belenggu-belenggu aneh yang sudah berbilang tahun menyesakkan. Ah, aku mungkin harus pergi, bukan untuk berlari menjauh, tapi hanya terlepas, hingga… (aku bahkan taktahu hingga kapan).
Aku ingin menjadi bulan, senantiasa bertasbih pada-Nya, ikhlas walau ditakdirkan memiliki banyak fase dalam tiap periodenya, kadang menyabit, kadang sempurna indah membulat, menampilkan keelokan purnama, kadang bahkan tergilas entah ke mana.
Aku ingin bisa merasa ‘ditemani’ ketika aku benar-benar sendiri seperti ini dan Kau selalu mengabulkan keinginanku yang satu ini, apalagi jika hatiku lapang, selapang-lapangnya.
Entahlah, aku hanya ingin tersenyum lagi ketika esok hari mentari bahkan enggan menyapa. Aku bukan seorang rapuh lagi yang tergilas harapannya, walaupun sering merasa berbeda. Aku gadis kuat yang terus berusaha menemukan ciri khasnya: kesederhanaan. Karena bahagia itu sederhana.
Karena di hati yang lapang, di sanalah terdapat banyak dzikir memenuhi, di sanalah perasaan menerima akan melegakan kesesakan yang membelenggu. Semoga hati ini lapang, sehingga selalu terang. Walau sendiri, tetap ditemani.

Pojok Biru 2,
sendiri tapi ‘ditemani’
5 Juli 2011
21.46

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s