Mama, Abi, dan Ayin

Suatu hari pada Februari 2017

Liburan akhir pekan. Keluarga kecil mengendarai sebuah mobil sederhana tapi elegan menuju sebuah vila eksotik di kawasan Ciwangun, Bandung. Anak lelaki dua tahunan langsung berlari ke arah tanaman selada yang terhampar di depan vila. Ibunya yang masih muda sedikit mengejar sambil mengomel, sesekali berusaha membenarkan jilbabnya yang sedikit merat-merot akibat ulah si kecilnya yang ‘kreatif’. Perempuan muda itu mengejar anaknya sebelum si kecilnya terlalu kreatif merusak tanaman-tanaman selada yang menghijau muda.

“Ayiiin.. Jangan lari, Sayang. Di situ ada kodoknya gede lhu.. Sini sini sama mama, nanti naik kuda.”

Demi mendengar nama kodok dan kuda disebut secara bersamaan oleh mamanya, si kecil Ayin berhenti sejenak hanya untuk berhenti, mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya. Ia berhenti, beberapa detik kemudian, menoleh ke mamanya yang sepertinya mulai kewalahan. “Mama, talo beditu Ayin ambil duyu todoknya ya, abis itu tita naik tuda ya, Ma.” Ia meringis. Semakin semangat mencari kodok yang dibilang oleh mamanya. Apalagi setelah itu ia dijanjikan mau naik kuda. Mamanya semakin bingung, semakin cepat mengejar pangeran kecilnya. Sementara itu, lelaki yang juga masih muda tampak bersandar di mobilnya. Ia melepas kacamatanya. Tersenyum kecil. Amat bahagia memandang keluarga kecilnya. Istrinya menoleh ke arah suaminya. Mendengus manja. Suaminya semakin tertawa. Tiba-tiba saja, si kecil Ayin sudah berada di belakang mamanya. “Mamaaaaaaa.. Mama boon, todoknya dak ada.” katanya sambil memeluk mamanya dari belakang, berteriak keras sekali. Mamanya sudah hampir pingsan demi mendengar jeritan anaknya. Penyakit latahnya kumat. Kelakuan anak ini, sama persis seperti abinya. Abinya terkekeh, lalu berlari, menggendong pangerannya tinggi sekali. Setelah itu memeluk istrinya. Kali ini perempuan itu tidak mendengus lagi. Manja sekali. Ayin tertawa keras sekali. Bahagianya. “Abi, Abi dak suta boon tayak mama tan? Ayo naik tudaaaa..”

Mamanya gemes sekali, ia rebut Ayin dari gendongan abinya.

Anak kecil itu, terkadang memang terlihat lebih lincah dari anak seusianya, meskipun ngomongnya masih pelo tapi rasa ingin tahunya tinggi sekali. Tak jarang, mamanya jadi gemes akibat ulah kreatifnya (kalau tidak bisa disebut nakal). Abinya lah orang yang paling seneng kalau mamanya berteriak kaget dikejutkan oleh ulah si kecil itu.

<to be continued>

Sebuah imajinasi di Ciwangun,

15 Februari 2011

13.24

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s