Tentang Si kecil yang Ku Rindu

Selalu ada cerita di setiap perjalanan. Dan perjalanan bagiku adalah saat untuk bercerita. Nah, bagaimana deh? Hm.. Aku selalu lancar menggoreskan penaku ketika dalam perjalanan. Entah mengapa. Lalu perjalanan malam ini? Apa yang akan kuceritakan? Masih biasa saja, aku malas harus meninggalkan rumah lagi untuk kembali ke kota itu. Tapi bagaimanalah, aku tidak akan jadi apa-apa jika terus di rumah. Aku perlu melihat dunia agar aku dilihat dunia. Ah, sebenarnya takpenting juga, apalah arti dunia. Aku hanya ingin membuat diriku lebih berarti.

Baiklah, sebelum coretan saya ini semakin ngelantur ke mana-mana, aku mau cerita tentang sedikit air mata yang mengantar keberangkatanku. Tentang tetesan air mata seorang bocah lugu yang amat aku sayangi. Sebenarnya tangisannya bukan sesuatu yang istimewa, karena ini bukan sekali dua kali ia menangisi keberangkatanku ke Bandung (tapi tetap saja istimewa bagiku 😦 ). Terakhir sebelum ini, dia malah mutung (baca: ngambek) tidak mau pamitan denganku dan langsung nangis memeluk ibu’. Paginya, ketika aku sudah sampai Bandung, dia menelopon memintaku balik lagi sambil menangis. Gubrak! Kamu tahu apa yang terjadi? Saya cuma diam dan menangis. Telepon mati. Ah cengeng sekali aku ini. Tapi dia terlalu istimewa bagiku.

Hari ini, dia mengantarku. Tapi dia sungguh pandai. Jam 3 sore, waktu untuk mengantarku, juga waktu untuknya belajar di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Sama sekali dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengantarku, tetapi di sisi lain, ia tidak mau seharipun absen mengaji. Katanya, “Nanti kalau bolos dibalap dek Nabila sama Dek Dila.” Ah, betapa aku mengaguminya. Aku malu padanya. Walaupun masih sangat kecil, semangatnya luar biasa, aku bahkan tidak punya semangat setinggi yang ia punya. T.T . Ia akhirnya tetap sekolah, tetap belajar mengaji, tetapi usai itu izin pada ibu gurunya untuk mengantarku.

Aku ceritakan sedikit tentang semangatnya itu, Kawan. Dulu, enam bulan lalu, ketika aku belum kuliah, aku masih mengajarinya mengenal huruf hijaiyah. Hanya sekedar “a, ba, ta”. Sekarang, dia sudah jilid 3. Sudah bukan hanya mengenal huruf, tetapi membaca huruf berangkai dengan harokat juga panjang pendek yang ditentukan disertai sukun, dia sudah bisa. Dia sudah hafal berbagai macam doa sehari-hari juga beberapa surat pendek. Terkadang aku sengaja menguji, menyuruhnya menghafal surat A atau doa A, lucu sekali kalau ternyata dia lupa, sifat kekanakannya begitu terlihat. Ah, aku merindukannya….

Namanya Marisa Farkha Ahimsa. Aku memanggilnya Dek Farkha atau Dek A. Dia adekku paling bontot yang lahir ketika aku kelas VIII SMP, sekarang usianya sudah hampir 5 tahun, sudah TK kecil. Lucu sekali adek kesayanganku itu. Memang dia sedikit manja, karena sekarang dia menjadi anak tunggal mengingat kakak-kakaknya sudah ‘hengkang’ dari rumah. Aku mengaguminya, mengagumi semangatnya yang sungguh luar biasa itu. Dia tidak pernah melewati malamnya tanpa belajar sekalipun ia baru sampai di rumah larut usai bepergian. Pernah suatu kali Ibu bercerita padaku bahwa beliau sedang pulang dari pergi jauh, sampai rumah dia menangis karena belum belajar. Ibu yang sudah capek pun akhirnya menemaninya belajar, walau cuma sebentar. Malam-malam selama aku di rumah pun begitu, ia tak pernah bosan belajar. Justru aku yang sering mengajaknya berhenti belajar. “Dek, udahan ya, mbak mpun ngantuk.” Lalu dia pasti akan menjawab sambil menangis dan mengacungkan pensilnya ke arahku, “Mbak peliiit, kancani belajar kok moh.” Aku lalu tertawa kalau sudah begitu. Sayang sekali, akhir-akhir ini dia sedang cinta mati sama games di laptopku, sampai-sampai dia merengek ketika aku mau balik Bandung, memintaku untuk meninggalkan laptop. (Dek, nangisin mbaknya atau laptopnya?? T.T)

Tadi siang dia menangis keras sekali, tangisan khas anak-anak seumurannya. “Tanganku kena sepalepes (baca: staplers)”, teriaknya. Tangannya memang sedikit luka. Ah, aku tersenyum kecil. Anak-anak memang selalu penuh pesona. Tapi sore ini, beberapa menit sebelum bus menjemputku, dia menangis di pangkuanku, keras sekali. Dia menangisiku, menangisi kakak sulungnya. T.T Aku ingin menangis saat itu juga. Tapi tertahan. Adeeeek, mbak pulang lagi kok. Nanti. Nanti, saat aku pulang lagi, aku yakin, sudah banyak sekali hal baru yang kamu bisai. Mungkin kamu sudah tidak jilid 3, mungkin sudah bisa membaca Al-Qur’an. Atau sudah tambah banyak hafalan surat pendekmu. Atau bahkan sudah hafal bacaan-bacaan solat. Aku masih mengagumi semangatmu.

#Aku tahu kalian pasti (mungkin) juga punya adek yang istimewa seperti adekku. Hei, lihatlah semangat mereka. Semangat anak kecil yang sungguh luar biasa. Jika mereka menangis seperti adekku, semoga air matanya merupakan doa untukmu. Aku (masih) belajar banyak dari dia.

“Setiap diri kita memiliki kisah inspiratif, tulis dan sebarkanlah.” (Andrea Hirata)

 

Di atas bus,

Sabtu,12 Februari 2011

21.02

 

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s