Perjalanan Ini (Mengapa??)

Perjalanan..

Aku terbangun, bukan dari tidurku tapi dari pejaman mata, karena aku tak tidur. Kubuka perlahan. Bus belum berjalan jauh, baru menapaki Bekasi. Teman-teman masih banyak yang terlelap, takpeduli matahari mulai menyusup jendela bus. Aku diam, menggigit udara sambil mendesah kuat, berusaha menghilangkan keanehan hati.

—-diam, disindir teman-teman gara-gara ada lirik lagu, “Meski telah lama kita takbertemu, kuselalu memikirkan kamu, kuselalu merindukan kamu.” *heran, emang kenapa?*—-

Aku berpikir kembali. Hidup juga perjalanan. Tetapi perjalanan hidup takbisa berbalik arah. Ketika salah arah, kita bisa berbalik, bahkan di tol pun kita masih bisa mencari jalan untuk berputar. Tapi tidak untuk perjalanan hidup. Aku merenungkan sesuatu.

—stressdiam—

20 Des 2010, 8.19

dalam perjalanan

7.46 21 Des 2010

Perenungan belum selesai. Kegelisahanku belum lari. Kalau saja bisa kusampaikan pada siapa saja yang ada dalam renunganku, juga pada impian kusam yang masih mengkilat di mata hatiku. Ah, tinggal belok, aku mungkin akan sampai ke sana. Lalu apa yang aku lakukan dengan turun lalu belok? Meninggalkan perjalanan ini? Hal gila apalagi yang akan aku lakukan? Tunggu dulu, ‘lagi’? Memangnya semua hal gila itu sudah kulakukan? Sama sekali belum. Kegilaan-kegilaan itu kubiarkan diam, menumpuk di alam pikirku yang semakin hari semakin menumpuk mengikat perasaanku. Mungkin tinggal menunggu waktu untuk meledak. Ah tidak juga. Nuraniku selalu menang dalam perang batin ini.

Bus terus melaju meninggalkan kota yang seperti tinggal nama saja di pikiranku. Aku semakin jauh dari arah belokan itu. Iya, bus ini, mungkin bisa saja kupaksa berbelok sambil mengancam sopir. Ah, ide gila yang tak terealisasi lagi. Tapi waktu sudah tak bisa berbelok. Langkahku sudah teramat terlambat. Aku harus terus menyusuri jalan ini. Berjuang melawan ego, emosi, atau benar-benar keinginan? Apalah namanya, aku tak mengerti.

Jakarta pagi sudah dipenuhi mobil berbagai merk. Aku masih di atas bus, duduk di pinggir jendela, mengamati marka jalan, menghafal merk-merk mobil, melirik plat mobil, entah merah atau hitam, B dan F yang paling sering kulihat. Sementara mataku melirik ke jendela, tanganku masih terus menari di atas benda putih berbalut biru. Aku merenung lagi.

Mengapa aku harus ada di sini? Mengapa orang-orang sudah larut dalam dunia mereka sekarang, sedang aku terus saja menginginkan duniaku yang dulu? Mengapa sering terpikir aku ingin pergi? Mengapa hatiku tidak mau aku ubah dan menjadi bahagia tanpa gelisah-gelisah ini? Mengapa aku harus lemah dan nuraniku selalu menang? Mengapa aku terus taktega? Mengapa aku takberani menyakiti orang lain, sedang aku sendiri sakit? Mengapa aku ingin dipedulikan, sementara orang-orang sibuk dengan dunia masing-masing? Mengapa aku harus terus gelisah? MENGAPA???

Mengapa aku masih diam? Mengeluh, mencemburukan mimpi-mimpi orang lain yang terukir indah, sementara ukiranku seperti terpahat lain. Arrrghhh.. Mengapa jiwaku begitu kering? Mengapa aku harus terus menggigit udara, merekatkan gigiku, sambil mendesah untuk menghilangkan sesak ini? Mengapa sesak ini takmau hilang?

Rabb.. Pada siapa hamba harus jujur tentang ini jika bukan padaMu? Adakah manusia pilihanMu yang bisa kupercaya untuk sekedar meredam sesakku atau membersihkan gelisahku? Rabb, jika memang semua itu tak baik untukku, berilah hamba kemudahan untuk mengikhlaskan semuanya. Berilah hamba kemudahan untuk sekedar berkata, “AKU BAHAGIA DI SINI.”

Huft, perjalanan memanglah cerita, sekarang aku berada di alur yang mana? Bus masih takberbelok, lurus, dan aku masih tetap di sini. Lalu, apakah aku juga harus tetap melanjutkan langkahku, takpeduli perih? Kalau saja bukan untuk mereka, aku sudah melesat jauh. Karena hanya untuk mereka, kucoba ikhlaskan semuanya, kucoba belajar melepas mimpiku, kucoba mencintai jalan ini walau hatiku takpernah mau. Kucoba berbahagia walau setiap realita yang ada terpaksa membuatku jatuh lagi. Ah, siapa yang masih peduli? Semua sudah indah dengan mimpi mereka. Dan aku, tentu saja, takmau merusak mimpi siapapun. Berbahagialah kawan, jika mimpimu bisa tercapai, besungguh-sungguhlah dan raih citamu, rangkai demi kebahagiaan kita bersama di masa depan. Aku juga tetap bersungguh-sungguh, setidaknya aku akan terus melanjutkan perjalanan ini. Demi hutangku pada mereka yang takpernah mampu kubayar. Demi baktiku, sayangku, juga ridlo mereka, aku akan terus melangkah walau kakiku sebenarnya bukan di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Ini (Mengapa??)

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s