Logika, Oh NO!!!

Logika. Entahlah, semenjak dia mengkhianati saya usai memperkosa hati saya, saya jadi sedikit kehilangan kepercayaan saya padanya. Nyatanya tak semua hal bisa diatasi dengan logika, tapi entah mengapa masih saja ada yang mendewakan logika.

Dulu aku juga sempat berpikir begitu. Ya, logika memang pembuktian yang logis, tapi entah mengapa saya sependapat sekali kalau ada yang bilang, logika itu bukan segalanya. Iya, saya akui, saya bukan orang yang gemar sains, saya lebih suka terjun ke sosial, tapi bukan ini juga yang mempengaruhi saya untuk berpendapat seperti ini.

Logika, sampai kapan orang akan menempatkan dia sebagai prioritas. Sudah jelas, tidak semua premis-premis itu mutlak benar. Saking sentimennya, saya menyebutnya jika benar adalah suatu kebetulan. Gila memang. Tapi begitulah kenyataan yang ada di pikiran saya. Ada banyak hal yang tak dapat di jangkau oleh akal manusia. Bahkan kalau logika semakin berani berkuasa, dunia akan semakin mengerikan. Sekali lagi, itu menurut saya yang gila ini. đŸ˜€

Entahlah karena apa, saya benar-benar kehilangan kepercayaan pada logika, walau juga tak dapat saya pungkiri ada kalanya kita harus berpikir dengan logika. Lalu bagaimana seharusnya? Ini kesimpulan saya sendiri. Mungkin kita harus pandai menempatkan sesuatu, apakah harus dipikir dengan logika atau bahkan harus menghilangkan unsur logika. Tapi bagaimana cara kita agar pandai mengelola itu semua? Jawabannya adalah pengalaman. Pengalaman membuat kita mengerti pelajaran hidup, hingga pada akhirnya kita tahu bagaimana memposisikan sesuatu.

Ah, tetap saja, pengalaman hidup itu juga yang mengajarkanku agar tidak mudah percaya pada logika. Pengalaman hidup itu pula yang mengajarkanku untuk berpikir lain. Karena kadang sesuatu terjadi di luar logika kita. Bagi saya, kita harus perlu punya sikap ikhlas yang tinggi. Percaya dan husnudlon pada Allah pun tak kalah penting. Karena dengan begitu, kita bisa menerima apapun yang terjadi, entah itu logis atau tidak, bahkan gila sekalipun.

Saya jadi ingat satu kalimat yang dulu begitu menggeleggar dan bertengger di jaket saya, IMPOSSIBLE IS NOTHING! Ya, tak ada yang tak mungkin. Entah itu dapat terjangkau dengan logika atau tidak. Itulah perlunya hati, tidak hanya akal, karena manusia punya hati dan akal. Tapi entah kenapa penerapan sikap ikhlas untuk mengatasi setiap kemungkinan yang terjadi itu begitu sulit, sulit sekali. Mungkin juga sikap tidak ikhlas itu yang membuat saya akhirnya sedikit kehilangan kepercayaan pada logika, padahal seharusnya kita bersikap adil pada setiap probabaility, entah itu yang harus dipikir dengan logika atau bahkan yang tidak logis hingga gila sekalipun, seperti yang saya bilang sebelumnya. đŸ˜€

Ikhlas.. ikhlas.. benar-benar satu pelajaran tersulit…

Pojok Biru II

Minggu, 15 Agustus 2010

07:40:17 WIB

Advertisements

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s