Ku Gantungkan Namamu padaNya

Ketika pekik malam sedang mencekik setiap urat leher, nadi-nadiku masih berdenyut normal, lalu mencepat. Aku teringat sebuah nama, nama yang kubiarkan menjalar dalam sistem perakaran hatiku tanpa xylem dan floem, nama yang kini akhirnya menjadi angan untuk cita-citaku.

Sudah dua tahun setengah sejak air mata cemburu itu menetes, saat untuk pertama kalinya aku disindir oleh seorang teman, dan aku tak mau mengaku. “Kamu kenapa? Tumben nangis gak jelas..” begitu katanya. Aku bahkan masih ingat detil sindirannya itu. Aku diam menggeleng lalu mengusap air mata yang tiba-tiba menetes tak tahu malu usai membaca sebuah pesan singkat. Sudah barangkali memang suatu keanehan jika seorang Farikha Irsyada menangis, apalagi karena cemburu yang meluap-luap. Benar-benar hal yang ganjil.

Rikha, begitu aku biasa dipanggil. Sesuai namaku yang berarti petunjuk kebahagiaan aku hampir selalu tampak ceria di kalangan orang-orang terdekatku. Namun malam dua setengah tahun lalu itu lain. Aku baru menyadari bahwa aku jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta, bukan cinta-cintaan yang sebelumnya juga pernah ku rasakan. Aku menangis hanya demi membaca sebuah pesan dari seorang pemuda bahwa ia sedang mengkhawatirkan gadis lain, gadis lain yang memang lebih layak untuk pemuda itu, juga tambatan hatinya. Entahlah, tak pernah terbayangkan, dadaku tiba-tiba sesak hanya karena cemburu. Ku pikir cerita cemburu yang menyesakkan dalam novel-novel hanyalah sebuah dramatisasi. Aku salah, novel-novel itu benar.

Umurku belum genap tujuh belas kala itu. Masih terlalu dinikah jika tiba-tiba aku punya perasaan tak menentu itu? Aku menangis malam itu. Masih tak ada yang tahu arti air mataku, kecuali Allah dan bintang-bintangnya yang malam itu sudi aku tatap nanar. Ruang didadaku sesak bukan main. Lalu esoknya, di sekolah kita dipertemukan. Aku masih diam, menganggap semua biasa, mengaburkan sesak itu menjadi wajar.

Ah, dia sahabat, sebenar-benar sahabat. Terlalu kejam untuk dihunus pedang bernama cinta. Diam-diam, entah sadar atau tidak, aku sering meliriknya dan membiarkan sesak di dadaku makin menyudutkan kenyataan yang ada. Namanya Muhammad Razif. Nama yang segagah perangainya. Dalam lirikan yang sejenak itu, sontak aku berpikir, ada apa gerangan dengan diriku? Apa yang membuatku tiba-tiba begini? Kegagahannya? Bukan. Jika iya, kenapa tak dari dulu? Kepandaian, kebaikan, kelincahan, dan segurat lain kelebihannya? Juga bukan. Aku sudah mengenalnya jauh sebelum ini. Tapi, rasa aneh itu baru-baru saja menjadi aneh.

Razif. Tak kan mungkin pedang itu kubiarkan menghunusmu semakin kejam. Aku terengah kala itu, kala aku harus berlari dalam rasa yang harus kubatasi. Tak seorang pun tahu, bahkan sahabat terdekatku, walau mungkin mereka tahu apa yang terjadi denganku. Aku sempat ingin menjauh darinya. Tapi dia semakin mendekat. Entahlah, kita bersahabat seakan lepas dari ikatan sahabat. Kita bisa bercerita apapun yang mungkin mengganjal. Dia bahkan tahu aku sedang dipenuhi sesak karena jatuh cinta. Walau aku selalu mengelak.

Kemudian aku menutupnya rapat. Aku pasang sugesti, “aku sedang tidak jatuh cinta”. Lalu aku menjalani hidupku baik-baik saja hanya dengan sugesti itu. Tapi saat itulah, aku justru merasakan hawa lain. Aku mencium bau hunus pedang yang sama sedang dialamatkan padaku. Masih tidak ada yang tahu, sampai kita berlagak pilon, bersembunyi dengan perasaan masing-masing. Perasaan yang harusnya sama-sama kita bunuh dengan hunusan pedang itu.

Tapi pedang itu terlalu cepat menghunus ulu hati kita. Kita kalah. Pelan, tabir itu terbuka, dan pedang-pedang yang menghujam itupun saling bercerita. Sebuah kisah yang dahulu tak pernah kusangka. Benar saja, hunusannya terlalu kuat. Rasa itu-seperti yang ku bilang tadi-, ku biarkan menjalar, hingga kini menjadi akar.

Kini, aku sudah menginjak semester tiga di salah satu universitas swasta di Bandung. Entah kenapa nama Razif kembali menyeruak di antara seribu kesibukan yang sengaja kuciptakan sendiri. Bila aku mengingat, sudah lebih dari satu setengah tahun aku bertatap muka dengannya. Ya, siang hari di mushola itulah untuk ‘terakhir’ kalinya aku menatap punggungnya. Aku sudah tidak sanggup membayangkan sekarang dia seperti apa.

“Kita biarkan semua  berjalan, dan Allah yang meneruskan kisah kita, entah ke mana akan berlabuh. Belum hak kita untuk menjalani ini semua. Hati kita biarlah terjaga untukNya, sampai nanti, jika Dia memang mengizinkan aku hadir untuk menjadi penanggungjawab hidupmu.”

Air mataku runtuh. Sejak air mata cemburu untuk pertama kalinya itu, sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menangis karena cinta, satu hal yang sebelumnya aku tak percaya. Aku melepasnya kala itu juga. Sekitar Ramadhan tahun lalu. Sejak itu, kami hanya bertukar cerita lewat email yang kami kirim berbulan-bulan sekali, paling cepat tiga minggu sekali, ceritanya tentang kuliah yang kita jalani.

Dia berkelana ke negeri orang untuk meraih mimpinya menjadi arsitek handal. Aku sering mendengar ceritanya melalui email-emailnya. Dia begitu menikmati studinya di sana. Aku hanya mendoakan saja, semoga mimpi itu dapat diraihnya. Sementara aku juga sedang berjuang di sini, untuk meraih mimpi yang mungkin berbeda. Lagi-lagi aku harus membatasi semuanya. Aku sadar, ini belum waktunya untuk kita menjadi dekat. Ini belum hak kita.

Lagi-lagi sesak pun mengendus. Ada kerinduan yang amat sangat harus ku pendam dalam-dalam. Benar-benar perih. Penyakit cinta nomor 2 setelah cemburu: RINDU. Ternyata rindu sama sesaknya. Dan malam ini aku begitu ingin mengingatnya. Rabb.. Maafkan hambaMu yang tak tahu malu ini. Aku sudah lelah selama ini menutupi semuanya dengan berdalih pada kesibukan-kesibukan. Nyatanya sesak ini tak pernah hilang.

Entahlah, tiba-tiba aku rindu tawanya. Aku rindu keluhannya. Aku rindu cerita-ceritanya. Aku rindu caranya menenangkan tangisku. Aku rindu kesabarannya menghadapi ketidakdewasaanku. Ah, semuanya… Rabb.. Sekali lagi, ampuni aku yang semakin lancang ini.

Sejak mengenalnya, aku belajar banyak ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu hidup. Kita memang sedang sama-sama belajar. Kita sedang sama-sama mengingatkan. Dan kita juga tahu, ada kesalahan besar yang belum pantas kita lakukan, yaitu menjadi terlalu dekat. Walaupun tak ada sedikit pun sentuhan di antara kulit kita. Tapi hati kita sering diliputi keresahan karena cinta. Aku tahu dia takut karena aku pun juga takut.

Hingga detik itu, kita memutuskan untuk lepas, membiarkan semua berjalan apa adanya. Kita adalah sahabat, kecuali jika Allah menaikkan kata sahabat menjadi lain nanti. Allah.. Kuatkan dan teguhkan hati kami. Tegakkan aku ketika kerinduan ini membuatku limpung oleh cinta maya ini karena memang hanya cintaMu yang hakiki.

Razif.. Aku masih menggantungkan namamu dalam anganku. Entah bagaimana dengan kamu padaku. Aku menggantungkannya padaNya, terserah Dia atas kita. Karena jawaban digulung oleh sang waktu, sampai tabir terbuka, seperti dulu ketika tabir cinta kita akhirnya bercerita.

Dalam malam yang semakin mencekik, aku merenung lagi. Allah Rabbul Izzati, bintang itu pun Kau ciptakan penuh cinta untuk kami. Ampuni hambaMu yang kufur ini. Kemudian aku mengambil air wudlu, kubiarkan air mataku terisak dalam doaku, dalam pengakuan seorang hamba yang memohon ampun.

Pojok biru,

Jumat, 13 Agustus 2010

23:14 WIB

Advertisements

19 thoughts on “Ku Gantungkan Namamu padaNya

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s