Ungkapan Hati Untuk Ayah dan Ibu (Sampai Jumpa Impian)

Kalian sayang orang tua? Pasti. Ingin mereka bahagia? Pasti. Bahkan apapun akan kalian lakukan demi melihat senyum mereka, demi meringankan beban mereka, demi membuat mereka bangga punya anak seperti kita, demi apapun yang penting mereka bahagia, tak peduli kebahagiaan kita akan terenggut. Tidak! Itu salah besar, Kawan. Awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi pengalaman saya hari ini menceritakan semuanya kepadaku bahwa pemikiran saya itu SALAH BESAR.

Sejak kemarin, saat aku melihat senyum teman-teman yang akhirnya berhasil meraih impian mereka setelah berbagai putus asa menerjang, aku banyak murung. Aku seperti medapatkan suatu tamparan keras. Bukan, bukan aku tak bahagia melihat mereka akhirnya memeluk mimpi mereka, aku justru terharu sekali saat sms juga status-status kalian bercerita alangkah bahagianya kalian saat itu. Aku hanya merenung, mungkin seharusnya aku juga bisa merasakan seperti yang kalian rasakan, tapi aku tak akan pernah tahu, karena aku tak pernah mencoba.

UI adalah impian besarku sejak kecil, entah kapan, bahkan sebelum aku tahu apa itu universitas. Yang aku tahu saat itu, UI merupakan tempat kuliah yang patut diimpikan. Aku juga tak tahu apa itu kuliah. Lucu memang, tapi itulah kenyataan. Sampai akhirnya saat itu tiba. Iya, saat dimana sudah waktunya aku mengenyam apa itu kuliah.

Orang-orang disekitarku, termasuk Abah dan Ibu’ (panggilan akrabku untuk mereka) begitu mendukung mimpiku ini. Sudah kutentukan tujuanku. Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, seiring dengan cita-citaku untuk menjadi penulis. Aku bahkan sering membayangkan menjadi yellow jaketters. Ah, alangkah menyenangkannya. Mungkin aku siswa paling bersemangat saat briefing UI diadakan di SMA 1 PATI. Tapi semua impian itu raib dalam waktu dimana seharusnya aku berjuang untuk meraih mimpi itu.

Sebelum mendaftar UI, aku juga mengikuti test IM TELKOM. Kebetulan ini test untuk meraih beasiswa 100%. Aku pikir ini kesempatan bagus untuk membahagiakan mereka. Toh, Telkom memang tujuan kedua dan juga keinginanku. Aku jadikan ini cadangan kalau-kalau kemungkinan buruk terjadi, kalau pun seumpama aku diterima di UI, aku tidak akan membebankan mereka, karena tak sepeser biaya mereka keluarkan. Ini salah satu upayaku untuk meringankan beban mereka. Dan alhamdulillah aku diterima.

Semua berubah saat aku tahu kalau aku terlambat mengikuti registrasi. Aku sempat down saat itu. Alhamdulillah masih bisa ditolelir oleh IM TELKOM dengan syarat harus datang langsung ke kantor IM TELKOM di Bandung. Saat itu, Abah marah dan memintaku untuk menetapkan satu tujuan saja. Aku tahu, mungkin saat itu beliau sedang emosi, atau mungkin sedang ada masalah. Tapi entah kenapa, sejak saat itu aku merasa membebani mereka dan aku bertekad untuk membuat mereka bahagia. Apapun caranya, termasuk dengan melupakan impian besarku, UI.

Banyak sekali pertimbanganku. Pertama, tentu saja beasiswa 100% yang tentu akan meringankan beban mereka, apalagi tahun ini adik ku masuk SMP, dan masih banyak kebutuhan lain. Masalah-masalah yang muncul, walaupun mereka merahasiakan dariku, juga semakin membuatku yakin, bahwa inilah jalan terbaik yang harus ku tempuh. Kedua, aku ingin menebus mimpi Abah untuk kuliah di Bandung yang sempat kandas ketika beliau masih muda dulu. Ketiga, keluargaku sangat bahagia begitu tahu aku memperoleh beasis wa 100% dan mereka begitu mendukungku. Aku tidak tega menghancurkan semua kebahagiaan mereka. TIDAK TEGA. Apalagi satu hal, aku ingin membuat mereka bahagia.

Keyakinan itu akhirnya mengukuhkan niatku untuk menetap di satu jalan ini. Perlahan, mulai ku lupakan UI. Aku yakinkan diriku bahwa ini adalah pilihan hidupku dan aku bahagia dengan ini. Tak ada seorang keluarga pun yang mengerti tentang ini. Aku hanya diam. Kadang aku bercerita pada beberapa sahabat untuk sekedar menguatkan keyakinanku. Mereka sangat mendukung pilihanku, hingga akhirnya aku yakin. Tapi, seorang teman, tak pernah berhenti mengingatkanku agar aku tak menyesal pada pilihanku.

Berkali-kali dia bertanya, “Kamu sudah yakin dengan pilihan ini?”, berkali-kali juga aku menjawab “Iya” dengan mantap. Tak seorang pun tahu saat itu leherku tercekik, ulu hatiku menjerit. Iya, aku sedang berbohong saat aku berkata ‘Iya”. Nyatanya, hatiku masih menjawab pilihan itu adalah UI. Dia sempat menyarankanku untuk ikut SNMPTN, tapi aku menolak. Ya, aku bisa saja memaksakan mimpiku, tapi sekali lagi, aku tak tega merenggut kebahagiaan mereka.

“Orang tua punya keinginan, tapi kita tak harus menuruti semua keinginan mereka untuk membuat mereka bahagia. Terkadang kita harus mengambil jalan kita sendiri dan mereka akan bahagia dengan apa yang kita ambil bila itu memang baik.” Itu salah satu nasihatnya. Tapi keyakinanku yang sudah kuat membuat aku yakin dan tak peduli lagi dengan itu. Aku terus berjalan dengan keyakinanku dan mengatakan bahwa aku bahagia dengan pilihanku.

SNMPTN, jalan terakhir menuju UI akhirnya berlalu. Aku hanya mempersiapkan registrasi selanjutnya untuk menjadi mahasiswa IM TELKOM. Abah bahkan sudah mencarikan aku tempat kost yang nyaman jauh-jauh hari sebelumnya. Keyakinanku bertambah kuat. Mengingat perjuangan mereka membuatku semakin yakin akan pilihan ini.

Hingga kemarin, aku masih baik-baik saja. Tak ada yang berubah, bahkan sebentar lagi aku akan ke Bandung untuk melakukan registrasi ulang. Tapi, melihat kebahagiaan teman-teman, aku seperti turut merasakan kebahagiaan itu. Saat itulah aku sadar, bahwa selama ini aku hanya memaksakan perasaanku untuk bahagia, padahal sebenarnya tidak. Sejak detik itu, aku tak lagi percaya pada teori Chaos.

Tak ada yang tahu aku hancur malam itu. Tak ada yang tahu leherku semakin kuat mencekik, perih, amat perih sekali. Aku hanya berdiam dan terus berdiam di kamar biruku. Aku terus bersembunyi di balik air mata yang tak mau berhenti mengalir. Semakin deras, aku tak kuat membendungnya lagi. Aku ingin bercerita pada sahabat-sahabat dekatku, tapi aku tak tega menganggu kebahagiaan mereka. Sampai akhirnya beberapa berdatangan meramaikan inboxku.

Mereka akhirnya meredam air mataku. Dengan saling meyakinkan, aku pun perlahan mulai mendapatkan kekuatan lagi. Sampai pagi hari tiba, rupanya perasaanku belum mau bersahabat juga. Aku belum bisa berpikir normal kembali. Tapi senyum palsu cukup bisa menutupi semuanya. Masih tak ada yang tahu hingga malam ini tiba.

Aku tak bisa menahan air mataku lagi ketika aku bercerita tentang kesuksesan teman-teman menghadapi SNMPTN pada Ibu. Dari situlah, akhirnya Ibu tahu kalau ini bukan keinginanku. Seisi rumah akhirnya mendengar isak tangisku yang tak mau berhenti. Ayah bahkan sampai menghentikan makan malamnya. Batinku menjerit kuat, melihat air mata mereka jatuh di depan mataku. Aku tahu mereka merasa sangat bersalah dengan ini.

Dari situlah aku tahu betapa mereka begitu menghargai aku. Tak ada sedikitpun keinginan mereka untuk merampas mimpiku. Aku jatuh di pelukan Abah dengan masih terisak air mata. Selama ini mereka menunggu aku terbuka. Dengan keyakinan yang dulu aku buat, mereka mengira aku bahagia. Aku tahu, ada petir kuat di hati Abah begitu tahu tentang keinginanku sebenarnya. Aku bahkan bisa melihatnya. Ada gurat penyesalan di wajahnya yang tegar. Dari situ juga aku tahu, betapa beliau sangat menyayangi anak-anaknya.

Abah, Ibu’, kalian tahu aku hanya tak tega untuk mengatakan keinginanku sebenarnya, terlalu indah untuk menghancurkan semuanya. Aku juga tak kuasa untuk menambah beban lagi untuk kalian, karena itu juga aku tak pernah jujur tentang semua ini. Tak ada maksud sama sekali untuk melukai, apalagi membuat kalian merasa bersalah atas ini. Tidak. Hatiku sakit melihat air mata kalian. Sampai saat ini, aku belum bisa membiarkan air mataku reda. Aku hanya salah paham dulu. Aku kira kalian tak akan mengizinkanku untuk menempuh mimpiku, tapi aku salah. Kalian bahkan tak tahu tentang ini. Maafkan aku.. maaf.. maafkan anakmu ini atas ketololannya.

Aku mencium tangan ayah dengan air mata yang masih terisak. Beliau masih tampak kuat, walau aku tahu hatinya hancur. Ayah mana yang tak hancur hatinya, ketika tahu anaknya sedang terampas mimpinya, ketika tahu ia tak bisa mengerti keinginan anaknya. Tidak, Bah! Ini bukan salahmu. Sudahlah, jangan jadikan ini beban pikiran. Sesuai pesan kalian, aku masih berniat membuat kalian bahagia. Aku akan tersenyum, seperti yang kau katakan, “Orang tua itu bahagia kalau melihat anaknya bahagia, tapi orang tua juga akan sedih kalau anaknya tidak bahagia.”

Ku lirik Ibu, sinar matanya menyampaikan kekhawatiran untuk anak sulungnya ini. Ia takut jika aku tak bahagia menjalani pilihan ini dan akhirnya konsentrasi belajarku terganggu. Ah, Ibuku yang amat kusayangi, aku tak sepicik itu, aku justru sekarang jadi yakin bahwa ini pilihan yang tepat. Ya, kalau saja dulu aku mau mengumpulkan sedikit saja keberanian, pasti bukan begini ceritanya. Tapi apalah artinya mengandai-andai, sama saja menyesali yang ada.

“Nasi memang telah menjadi bubur, tapi ini bukan bubur basi, ini bubur lezat, jadi nikmatilah. Allah telah menggariskan jalan hidup masing-masing untuk hambaNya, bersungguh-sungguhlah dengan jalur ini, bukan harta yang ku wariskan, tapi ilmu.” Begitu kata Abah selanjutnya dengan bijak.

Entah kenapa, aku justru kini lega. Aku jadi semakin kuat untuk mengatakan, “Sampai jumpa, UI!”. Aku akan menebus rasa bersalah kalian dengan keikhlasan dan kesungguhanku. Tidak ada kata
terlambat untuk bermimpi, sampai sekarang aku masih menjadikan UI impian dan aku berjanji untuk memeluknya suatu saat nanti. Entah kapan.

Tapi, dari semua itu, aku tahu satu pelajaran penting. Terbuka dengan orang tua itu penting. Penting sekali. Dan satu lagi, tidak semua keinginan ortu harus kita turuti untuk membuat mereka bahagia, kadang kita harus BERANI mengutarakan mau kita sendiri. Jangan takut, jangan seperti saya yang takut pada risiko. Kita harus mencoba dulu, Kawan. Ingatlah, orang yang paling mngerti kita sebenarnya dalah orang tua kita sendiri. 🙂

Semoga bisa jadi pelajaran…

*bahkan sekarang mereka sedang menyiapkan kejutan untuk anaknya yang tolol ini.. 🙂

love ur parents guys..

Pojok biru

Minggu, 18 Juli 2010

00:13:26 WIB

Advertisements

5 thoughts on “Ungkapan Hati Untuk Ayah dan Ibu (Sampai Jumpa Impian)

  1. Itu Sesuatu Yang Juga Tak Pernah Ku Coba (Impian Masa Kecil) … Sama Sepertimu …
    Tenanglah Masih Ada Hari Esok Dan Keajaiban Di Masa Depan
    WHE CIE PILE menyukai ini

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s