Ku Jauhkan Mimpiku..

Aku mengayuh sepedaku dengan sedikit berat. Entah mengapa setiap kali aku melewati rumah itu, hatiku terasa bergetar. Jantungku berdegup kencang. Ya, rumah di ujung gang itu memang menarik hatiku. Bukan, bukan karena halamannya yang bersih, juga bukan karena bunganya yang indah bermekaran. Tapi, karena penghuninya. Siapa lagi kalau bukan Sigit Alvaro. Lelaki penggemar bola basket itu sudah lama mengusik hatiku. Tepatnya, sejak kelas X dulu, ketika aku masih sekelas dengannya. Celakanya, setiap sore sepulang les, aku harus melewati rumah ini. Bagaimana tidak, tempat lesku hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya.

Dan sore ini, entah mengapa aku ingin berhenti sejenak dan memandangi rumah itu, berharap semoga sang pangeran keluar dari istananya. Kupandangi ring basket yang menggantung di halaman. Tak lama sang pangeran keluar membawa bola basket. Varo mendribel bolanya dan memasukkannya dengan lincah ke dalam ring. Huuh, betapa kerennya dia! Tanpa ku sadari, ia memutar kepalanya ke arahku. Dengan gugup, segera saja ku ayunkan sepedaku.

Dengan nafas yang ngos-ngosan, akhirnya aku sampai juga di rumah.

“Assalammualaikum, Ma!”

“Waalaikumsalam. Alea, kamu dari mana saja? Biasanya jam empat udah pulang? Kok telat setengah jam?”, Mama langsung saja menyambutku dengan pertanyaannya. Mama memang begitu. Beliau terlalu menyayangiku. Mungkin, karena aku anak tunggal.

“Iya nih, Ma, tadi ada pelajaran tambahan bentar. Malam ini masak apa, Ma?”

“Jangan keluyuran ya, Al! Dua bulan lagi kamu ujian. Belajar yang bener biar bisa masuk PTN favorit…” jawab Mama mengabaikan pertanyaanku.

“Kamu nggak habis janjian sama pacar kamu kan?”, sahut Papa tiba-tiba.

“Apain si?! Yang punya pacar siapa juga…?? Janjian ma siapa? Udah deh, Pa! Aku masih pegang janjiku kok.”

“Ya udah, Papa kan cuma ngetes… Gitu aja sensi! Kalau gitu, cepetan mandi. Mama masak kesukaan kamu tuh!”

“Oke deh Papa!”

Usai makan malam, aku segera masuk ke kamar, bersiap untuk belajar. Kubuka lembar demi lembar buku matematika, ketika itulah kusadari kalau catatan matematikaku hilang. Huuuh, bagaimana ini! Padahal, aku sudah meringkas rumus-rumus untuk kupelajari menjelang UAN di buku itu. Dengan panik, aku mencari buku itu.

Ku ingin kau tahu..

Diriku disini menanti dirimu..

Hpku berdering. Melda, teman sebangkuku meneleponku.

“Halo, Mel! Ada apa?”

“Al, kamu kenapa? Panik banget kedengerannya?”

“Iya nih, buku catatan matematikaku ilang. Padahal, aku dah ngringkas rumus-rumus disitu. Ilang juga deh. Pa kebawa ma kamu ya?”

“Ampun deh, Al! ini tu malam Minggu. Besok libur lagi. Sempet-sempetnya belajar.. Oke deh salut ma kamu!”

“Ya kita kan mau ujian. Gimana, ada nggak?!”

“Ya deh terserah kamu… Tapi kayaknya nggak ada di aku deh. Kemarin kan aku abis minjem langsung tak kembaliin.”

“Aduh, di mana ya, Mel?”

“Udahlah, Mel! Biasa aja! Ntar fotokopi punyaku, aku kan dah nyalin punya kamu. Kamu tu ya jadi orang kutu buku banget.. Udah rileks aja! Slow down, baby!”

“Iya, iya… Btw, ada apa sih? Sori, aku malah ribut sendiri!”

“Santai aja.. Aku cuma pengin cerita kok! Soal Putra!”

“Putra? Putra gebetan kamu dari dulu itu? Yang suka kamu bilang cool itu? Ngapain dia? Kamu patah hati ya?!”

“Ye.. Siapa yang patah hati? Tadi dia nembak aku.”

“Wah, selamat ya.. Kalian pasti udah jadian. Iya kan?”

“Belum. Aku masih ragu, sebentar lagi ujian, aku pengin kayak kamu, Al, bisa fokus ke pelajaran tanpa mikirin cowok. Tapi, apa dia mau nungguin aku?!!”

“Ya udah kamu bilang aja jujur ke dia, kalu dia sungguh-sungguh, dia pasti mau nunggu kamu kok. Percaya deh..!”

“Thanks ya Al… Met belajar lagi deh! Nite..”

“Nite…”

Klik. Telepon terputus.

Melda, Melda, Putra tuh cowok ke berapa ya yang nembak kamu. Kadang aku iri ma kamu. Sedangkan aku, ditembak satu cowok aja belum pernah. Jujur, itu impianku. Impian terdalamku selama duduk di bangku SMA ini. Rasa-rasanya, akupun ingin dicintai seperti layaknya remaja yang lain. Tapi, entah apa penyebabnya, pangeran itu tak datang jua. Fisikku pun tak buruk-buruk amat, mungkin bisa dikatakan di atas standart. Kadang aku heran, si Dian yang bisa dikatakan pas-pasan saja sering wira-wiri  dengan seantero cowok. Menurut teman-teman si aku terlalu kutu buku, sehingga nggak ada cowok yang berani pdkt.

Tapi, apakah seorang kutu buku nggak boleh mencintai dan dicintai? Sudahlah, mungkin aku hanya bisa bermimpi. Kadang imajinasiku berlari, membayangkan saat aku lulus SMA nanti, ada sepucuk surat dari penggemar rahasiaku di dalam laci mejaku. Yah, itu hanya sekedar mimpi. Mimpi yang sulit untuk tercapai. Mimpi yang mungkin harus ku pendam dalam-dalam.

Aku berjalan melewati koridor menuju kelasku. Huh, entah apa yang terjadi tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang yang terengah-engah lari sambil membawa bola basket. Dan… brak! Buku dalam genggamanku terjatuh. Bola yang dipegang oleh cowok itupun menggelinding.

Tak ada kata yang terucap.

Benar-benar hening. Aku hanya mampu menganga sambil meredam getaran hebat yang bermain dalam jantungku. Dan dia, dia hanya menatap tajam dan menampakkan wajah sinisnya. Wajah seorang cowok yang sangat menyebalkan. Tapi, aku yakin karena tampangnya yang dingin itulah, setiap cewek pasti akan kelepek-kelepek hatinya. Begitupun aku. Entah mengapa pertahananku yang selama ini berdiri kokoh harus roboh begitu saja oleh pesonanya.

Ya, Varo. Seharusnya aku tak pantas untuk mencintainya. Tak mungkin. Tapi apa daya jika hatiku berkata lain. Pasrah, kata itulah yang kini tergambar jelas dalam sanubariku ketika tatapan sinis nan dingin itu dialamatkan kepadaku. Dan tetap tanpa kata, ia pergi meninggalkanku lalu mengejar bolanya yang menggelinding. Hhhuhhh, perasaan macam apa ini?? Apa yang kupikirkan?!

Untung saja, angin sadar segera berhembus di sel-sel sarafku kemudian membawa kakiku melanjutkan langkah menuju kelas.

“Alea!! Tumben lama banget sih?”, Melda langsung menyambutku ketika aku sampai di kelas.

“Hehe.. maaf deh! Emank ada apa, Mel?”

“Aku mau cerita ni..”

“Soal Putra ya?! Kamu udah ngomong ma dia? Gimana?”

“Huum.. ternyata dia mau menungguku, Al! Aku nggak nyangka dia mau mengerti alasanku. Rasanya lega….banget!”

Kamu emang beruntung ya, Mel! Kapan ya aku ngerasain di tembak oleh cowok?, batinku.

“Woyy, Alea!! Kok malah ngelamun sih? Oia, gimana catatan matematika kamu? Udah ketemu belum?”

“Hhehhh.. iya! Eh, belum. Nggak tau, Mel. Aku pinjem punya kamu aja ya…!!”

“Ohh… santae aja!”

Tak terasa waktu dua bulan berlalu begitu cepat. Tryout demi tryout telah kami jalankan. Ujian nasional pun semakin dekat. Aku pun semakin sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi UN. Mungkin karena kesibukan itu pula, aku sedikit melupakan Varo dan mimpiku. Walau terkadang, siluetnya bermain dalam otak. Toh hal itu tak menggangguku, justru menambah semangatku. Selama ini peringkat I parallel selalu dipegangnya, sedangkan aku hanya mampu mencapai peringkat II. Hal ini pula yang ikut memacu semangat belajarku. Jarang sekali di zaman seperti ini, seorang cowok mampu meraih peringkat I parallel di sebuah SMA favorit nan elit di kota ini.

Waktu yang dinanti itu pun tiba. Hari ini aku dan teman-teman mulai berperang melawan soal-soal UN. Berbekal ilmu yang ku tabung selama ini, alhamdulillah aku bisa melewati ujian hari ini dengan lancar, tanpa kendala yang berarti. Begitupun hari-hari berikutnya hingga ujian berakhir.

Hufft, perasaan berdebar selalu menyelimutiku menanti hasil ujian ini. Dan saat itu tiba pula, yakni pengumuman hasil UN. Dengan perasaan yang masih berdebar, aku berangkat menuju sekolah. Sebenarnya, ada dua hal yang membuatku berdebar hari ini. Satu, tentu saja hasil UN. Dua, hari ini ialah penentuan tercapai atau tidaknya mimpi konyol yang ku pendam selama ini. Dan yang kedua tentu tak akan tercapai.

Seperti biasa sebelum menerima hasil UN, kami diberi pengarahan terlebih dahulu oleh wali kelas. Seperti biasanya pula, aku duduk di bangku nomor dua di sebelah Melda. Dan hari ini ia tampak begitu sumringah.

“Napa sih, Mel?”, tanyaku penasaran.

“Coba tebak?”

“Pasti udah jadian ma Putra kan?”

“Yeee sok tau! Tapi ke arah situ sih… “

“Maksudnya??”

“Jadi semalam kita janjian, kalau kita lulus dan nilai kita baik, kita bakal resmi jadian. So sweet kan?!!”

“Kalau nggak lulus gimana?”, candaku menggodanya.

“Ahh, jangan dunk! Kamu kok doainnya gitu sih?”

Kidding, Mel!”

“Hehe.. trus dia juga bilang kalau ternyata dia suka aku dah lama, justru lebih dulu dia daripada aku… nggak nyangka deh, Al…!”

“Wah, seneng ni,… Traktirannya ya..!”

Obrolan kami terhenti ketika Pak Nur, wali kelas kami masuk ke kelas. Beliau pun memberikan pengarahan-pengarahan. Saat itulah, secara tak sengaja aku melihat sebuah amplop merah bergambar hati tergeletak di laci mejaku. Deg! Hatiku berdesir kencang. Akankah ini tanda-tanda tercapainya mimpiku? Uh, segera saja ku hapus pikiran itu.

“Mel, ini ada surat disini. Dari Putra kali ya…”, bisikku meneyerahkan surat itu pada Melda tanpa membukanya.

“Hah?! Ngapain Putra bikin ginian ya?!”

Aku hanya mengangkat bahu. Dengan sembunyi-sembunyi ia membuka surat itu dan membacanya sambil tersenyum. Oh, Melda, kamu semakin membuatku iri. Kapan ku temukan pangeran yang mengertiku apa adanya layaknya Putra memahamimu.

Aku tersentak ketika mendengar namaku disebut. Ya, keluarlah nama Azalea Azahra sebagai lulusan terbaik sekolah ini. Aku tak mampu berkata apa-apa mendengarnya.

“Ya, Alea, selamat! Pengumuman resmi dan penghargaannya akan diberikan secara langsung oleh kepala sekolah setelah ini. Dan kabar baik. Sekolah kita lulus seratus persen!!”

“Ye….!!!” sorak sorai menggema.

Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar. Setelah kepala sekolah memberikan penghargaan secara langsung kepadaku barulah aku menyadarinya. Wuih, walaupun mimpiku yang kedua tak tercapai, tapi ini lebih dari sekedar mimpi. Ucapan selamat dari teman-teman tak urung membuatku meneteskan air mata haru. Terima kasih, Ya Allah!

Melda menarikku menjauh dari keramaian. Aku sendiri kaget.

“Selamet ya, Al!”

“Ampun deh, Mel, mau ngucapin selamet ajah mpe narik-narik gini?! Makasih ya..”

“Coz ini spesial, selain selamet karena kamu keluar sebagai lulusan terbaik. Aku mau ngucapin selamet karena ini. Gila, so sweet banget!”, jawabnya sambil menunjukkan surat amplop merah yang ada di laci tadi.

Tanpa basa-basi lagi, segera saja aku meraih surat itu dari tangannya, tapi belum sempat ku raih, ia terburu menjauhkannya.

‘Weits, tunngu dulu! Jawab dulu pertanyaanku!”

“Iya, apaan Melda?”

“Selama ini kamu suka ma Varo ya??? Jujur Al!”

Wajahku langsung memerah. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutku.

“Cukup, Al! Aku dah tau jawabannya. Nih!”, ia pun menyerahkan surat itu.

Akupun mulai membacanya dengan hati yang amat berdebar. Sekali lagi, perasaan tak percaya itu masih ada. Apa yang sebenarnya terjadi?? Oh Tuhan…

To: Azalea Azahra

Maaf, hanya kertas ini yang menjadi pengantar perasaanku..

Maaf aku tak pernah bisa membaca rasamu..

Asal kau tau,.. disinipun aku merana tak pernah mampu mengungkap  semua padamu

Dan terima kasih karena kau telah memberikan arti cinta terindah dalam hatiku

Arti sebuah kesucian dan keluguan lakumu..

Yang membuatku tak kuasa..

I love u…

Regards,

Varo

Sekali lagi, air mata itu pun menetes. Kala itulah ku lihat Varo di sudut taman belakang. Tanpa basa-basi, Melda membawaku ke hadapan Varo lalu meninggalkanku terdiam kaku di hadapan cowok yang selama ini kucintai.

“Ada apa?”, tanyanya lugu.

“Mmmm.. thanks ya buat ini.”, aku menunjukkan surat itu padanya dengan malu.

Surat itupun diraihnya dan dibacanya. Sedang aku masih menunduk malu.

“Ha?!! Maaf ya, Al! Tapi ini bukan tulisanku. Beneran deh.. Ini sih tulisan Arvin, dasar usil banget sih!! Maaf ya, Al!”

Hatiku hancur seketika. Merasa tak tahu diri, Akupun segera lari menjauhi Varo. Samar-samar ku dengar suaranya memanggilku. Tapi, biarlah. Perasaanku terlanjur sakit. Orang seperti aku memang pantas untuk dijadikan bahan olokan seperti ini. Aku terus berlari hingga langkah kakiku terasa melambat ketika tangan seseorang meraih lenganku dan menahannya.

Aku masih terdiam.

“Maafin Arvin ya.. maafin aku juga?”

Sssttt, Varo??!! Tapi aku masih tak kuasa menampakkan air mata ini dihadapannya. Rasa malu ini masih saja menyelimutiku.

“Aku nggak bermaksud untuk bikin kamu malu atau apa.. Beneran Al!”

“Udahlah, Var! Aku udah maafin semuanya. Biarin aku pergi ya…?!”ucapku tanpa melihatnya.

Dengan pelan, ia melepaskanku. Langkahku pun masih terasa lambat karena hati ini sangat berat. Seharusnya, aku tak mempercayai ini semua dari awal. Seharusnya aku sadar, “superstar” macam Varo tak mungkin menaruh hati padaku. Huh, sudahlah!!

“Alea, surat itu memang bukan tulisanku dan bukan aku yang membuatnya. Tapi isi surat itu adalah isi hatiku!”

Deg! Suara lantang Varo nan tegas itu membuatku terhentak dan menoleh. Sejenak kita berpandangan. Deg! Lagi-lagi hati ini terus berdesir. Apa maksud dari semua ini? Permainan apalagi ini?!

“Maksud kamu?!!”

“Iya, Al! Aku emang gak tau siapa penulis asli surat itu, entah Arvin atau siapa. Aku nggak peduli, yang jelas aku sangat berterima kasih sama orang itu karena dia udah bantu aku buat nyatain perasaan yang selama ini mengkristal di hatiku. Aku sayang sama kamu, Al..”

“…….” Aku hanya terdiam mendengar semua pengakuan itu.

“Kamu mau nggak jadi pacarku?”tembaknya langsung.

Deg! Apalagi ini?!! Seharusnya aku bahagia karena mimpiku tercapai, bahkan lebih dari sekedar yang kuinginkan. Tapi hatiku tak bisa lagi berbohong, ini semua nggak bisa terjadi. Oh, Tuhan….! Apa yang harus kukatakan padanya?

Aku memang terlanjur menaruh hati padanya. Mungkin, dialah satu-satunya orang yang dapat menggoyahkan pertahananku. Tapi, aku tak boleh berfikir cinta. Janji ini sudah terlanjur ku genggam. Tak ingin ku lukai hati mereka. Tetapi, aku harus berkata apa pada Varo??

“Al…”, suaranya lirih, “Gimana?”

“Sori Var, aku nggak bisa..”, jawabku akhirnya sambil berusaha menghindar. Tapi sosok tinggi itu kembali menghentikan langkahku.

“Kamu yakin dengan jawabanmu?”

“Iya.”

“Al…”

“…..” air mata itu menetes lagi.

“Tapi kenapa?”

“Aku nggak suka sama kamu,” entah kenapa kata-kata yang tak ingin ku ucapkan itu keluar dari mulutku.

“Tapi kamu bisa mencobanya…..”pintanya.

“Aku nggak pernah suka ma kamu. Apa harus aku pacaran sama orang yang sama sekali aku nggak suka?”, lagi-lagi aku ngeles. Dan ini cukup membuat Varo terhenyak. Kami diam. Aku kembali menghindar. Satu langkah. Suasana masih hening. Dua langkah. Varo masih belum beranjak juga dari tempatnya. Tiga langkah. Masih diam. Emp…

“Kamu bohong, Al….”, suaranya memecah kesunyian siang itu, “Aku udah tau semua perasaanmu yang sebenarnya. Bukan dari orang lain, bukan dari sahabatmu, tapi dari hati kamu sendiri yang membuat aku akhirnya membuka hati pada seorang perempuan. Dan itu… kamu, Al!”

Aku menghentikan langkahku, tetap diam tanpa menoleh kepadanya.

Suaranya kembali terdengar, sejuk.

Malam kian redup dalam temaram sinarnya

Embun hijau menetes sedikit dalam celah hatiku

Apakah ini tetesan cinta?

Haruskah hatiku yang rapat terkoyak?

Akankah angin mampu mengudarakan rasaku padanya?

Ataukah hanya akan menjadi embun

Yang kian menetes membuka celah hatiku

Ku mohon angin,

Hembuskan aku pada dedaunan di atas sana

Yang embunnya mengisi hatiku

Dedaunan hijau bernama Sigit Alvaro

Yang tak mampu ku raih

Hah?? Itu kan puisi aku? Tapi, dari mana Varo mendapatkannya? Apakah ini juga ulah Arvin? Oh tidak…

“Apa kamu mau bohong lagi Al?”

Aku menoleh. Ya Allah catatan matematika yang ku cari ternyata ada dalam genggamannya. Dan aku ingat sekali, di salah satu halaman buku itu, aku menulis puisi. Tetap saja aneh bagiku. Melda yang sering meminjam catatan itu aja nggak pernah nemuin tulisan itu.

“Bagaimana buku itu bisa ada di kamu?”

“Kamu sendiri yang mengantarnya untukku.”

“Maksud kamu?”

“Sore itu, sosok mungil sedang tergesa-gesa pergi dari halaman rumah seorang Sigit Alvaro. Aku nggak tau kenapa gadis itu pergi tanpa membiarkan sang penghuni melihat wajahnya. Tapi Tuhan memang adil. Buku dari sang gadis terjatuh ketika ia terburu-buru memutar sepedanya. Dan dari situlah, aku mengetahui semuanya. Termasuk perasaannya.”

Aku hanya mampu menahan malu di sindir seperti itu.

“Kenapa kamu nggak kembaliin aja?”

“Niatnya sih gitu. Tapi begitu membuka halaman ini, aku mengurungkan niatku.”

“Bukan hak kamu membuka isi dari buku itu.”

“Sekali lagi, Tuhan memang maha Kuasa. Aku sendiri nggak sengaja membukanya.”

Jawaban yang diplomatis. Kali ini aku nggak bisa berkata apa-apa lagi. Sejenak kita terdiam oleh suasana.

“Ternyata kamu rajin banget ya.. Gila! Rumus-rumus dari jaman bauleak sampai jaman kristal kamu catet semua.”, candanya memecah suasana.

“Apakah yang ini juga bagian dari ketidaksengajaan?”

Dia tersenyum, “Nyatet rumus di otak aja kali. Tapi kalau nggak gitu, mungkin aku nggak pernah tau sebenernya perasaan kamu.”

“Aku udah janji untuk nggak pacaran, Var.”akhirnya aku bisa berkata jujur juga.

“Hai, nggak nyambung. Kita kan ngomongin rumus.”

Nggak nyangka ternyata cowok dingin itu bisa ngelucu juga, walaupun sebenernya garing.

“Iya, pacaran nggak ada dalam rumus hidupku.”, sahutku akhirnya. Tetapi karena lelucon garingnya itulah akhirnya suasana mencair.

“Baik, tapi ku ingin selamanya mencintai dirimu sampai saat ku menutup mata dan hidupku..”

“Hei, itu lirik lagu!”

“Yah, ketahuan…”

“Sekarang kamu ngerti kan, Var, napa aku nolak kamu?”

“Iya…”

“Kamu nggak marah?”

“Nggak. Kalo itu alasan kamu justru aku lega. Berarti perasan kita sama. Dan seperti udah aku bilang, ku ingin selamanya…” kali ini dia menyanyi.

“Stop! Udah.. makasih ya..”

Aku membaca kembali puisi dalam catatan matematika yang “hilang” itu. Rasanya, aku nggak nyangka pangeran itu datang karena puisi yang ku buat hanya iseng itu. Sekedar mengungkap perasaan pada selembar kertas. Tapi..

Ku ingin kau tahu

Diriku disini menanti dirimu..

Handphone berdering. Varo. Ya, semenjak pertemuan kali itu kita memang bertukar nomor HP. Huhu…

“Hai..”

“Hai…”

“Lagi apa Al?” pertanyaan biasa tapi terasa kelu bagiku untuk menjawabnya.

“Lagi ini aja…”

Seolah tahu kegugupanku, dia mengalihkan pembicaraan. “Kamu udah keterima di PTN mana, Al?”

“Eh, e…, di Jakarta. UI Var…”

“Hemph, selamat ya..”

“Kamu, Var?”

“Aku.. aku nggak kuliah disini, Al”

“Kenapa?”

“Kamu nolak aku sih..”

Ku tahu dia bercanda, tapi rasanya masih saja berdebar.

“Varo?”

“Iya, kamu nolak aku sih. Coba nggak, pasti aku bakal kuliah disini. Mungkin satu universitas sama kamu..”

“Iyakah?”

“Kalau iya, apa kamu bakal nerima aku?”, aku ternganga mendengarnya, “Nggak, Al, bercanda. Ortuku minta aku kuliah di luar negeri. Yah, ku nurut aja. Tapi, seandainya bener kamu nerima aku, aku berusaha untuk kulih disini kok.”

“Varo udah. Itu sudah menjadi prinsip aku untuk nggak pacaran.”

“Iya, Al. iya.. Kidding kok. Aku salut ma kamu.. kamu bisa menghargai dan menjunjung prinsip kamu. Padahal di era seperti ini prinsip kamu mungkin bisa dianggap kolot. Tapi aku setuju ma kamu.”

“Setuju?”

“Iya, aku satu prinsip ma kamu. Aku juga nggak pernah pacaran kok. Dan aku akan kembali suatu saat nanti untuk kamu.”

“Ah, gombal kamu, Var.”

Kami berbicara panjang lebar. Waktu 45 menit pun nggak kerasa. Dia benar-benar bukan seperti Varo yang selalu ku bayangkan dulu. Dia baik walau agak kaku.

“Udah dulu ya Var. Udah panas ni kuping..”

“Iya deh.. Tunggu sampai aku melamar kamu ntar ya, Al?”

“Apaan si kamu? Baru juga lulus SMA.”

“Pokonya tunggu aja. Nite…”

Malam semakin indah menyanyikan melodi kesunyiannya. Hening. Ya, aku lega. Semua mimpiku tercapai lebih dari yang ku harapkan. Tapi, aku harus menjauhkan mimpi itu demi sebuah prinsip yang ku pegang selama ini. Prinsip yang ku yakini benar adanya. Tapi, aku yakin. Mimpi itu hanya ku jauhkan, bukan ku tepis. Dan suatu saat nanti, insyaallah mimpi itu akan kembali mendekat menuju mimpi yang lebih besar dan lebih indah.

Advertisements

15 thoughts on “Ku Jauhkan Mimpiku..

  1. Qurani says:

    nama tokoh yg tak terlepas dri inspirasi mnjdi cliquers,, 😀
    ak suka alur cerita.a..penuh dg pertanyaan dn menancap langsung k relung hati.

  2. entah kapan, dimana suatu saat Azalea dan Varo akan bertemu dalam kisah nyata..

    Subhanallah…

    Tetap semangat curahkan karya0karyamu..
    sampaikan walau satu ayat.. 🙂

  3. wah… mudah2 an mimpi mreka tercapai ya.. 🙂

    eh, aku jadi pingin nulis cerpen juga nih, lanjutan yg dulu…
    tapi masalah klasik selalu sama…

    “Sajak tak berpena”
    susah banget nransfer dari kepala ke tulisan… 😦
    i prefer drawing, tapi ku ga bisa gambar… *dilema

  4. Amiin… 😀 pasti itu..
    Varo bkal njemput Alea ke UI dh kyaknya.. shabis studinya di luar negeri, studi diluar kn lbih cepet lulusnya.. *versi saya. hoho

    iya, bahkan sang penulis dengan pena nya melukiskan sajak-sajak indah yang tak pernah berhenti mengalir…
    menyentuh hati dan menginspirasi banyak orang..
    🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s