Dakwah Dulu Atau Memperbaiki Diri Dulu?

21 May
sumber gambar: ferilookinsid.wordpress.com

sumber gambar: ferilookinsid.wordpress.com

Pertanyaan yang kujadikan judul di atas cukup menarik bagiku. Dari serangkaian inspirasi yang disampaikan oleh Oki Setiana Dewi pada Mega Seminar, Minggu, 19 Mei 2013 di BPU UPI, pertanyaan “Dakwah dulu atau memperbaiki diri dulu?” benar-benar mengusikku. Ini pertanyaan sederhana, yang bisa jadi memiliki berbagai macam jawaban dengan berbagai macam pembenaran.

“Ya memperbaiki diri dulu lah, masa kita menyampaikan apa yang tidak kita lakukan?”

“Iya betul itu, kan kabura maqtan indallahi an taquulu maa laa taf’aluun.”

“Orang yang banyak ngomong tapi nggak action ya sama aja munafik. jadi ya memperbaiki dulu lah.”

Sah-sah saja jawaban di atas. Memang benar adanya. Tapi jangan sampai kita fokus memperbaiki diri sendiri tapi lupa mendakwahkannya. Kalau kata salah seorang sahabat, “itu namanya mau soleh sendirian”. Yang lebih parah, kita nggak mau berdakwah dengan alasan mau memperbaiki diri dulu tapi nggak punya indikasi kapan diri kita sudah bisa disebut baik untuk berdakwah. Nah lho? Dulu, Himsa juga begitu. Hehe. Himsa takut hidup di area dakwah, lebih tepatnya takut tidak bisa menjalankan apa yang disampaikan. (Tapi nyemplung juga di lembaga dakwah kampus, haha). Alhamdulillah, suatu keadaan ‘memaksa’ku untuk mengemban amanah dakwah. Perlahan-lahan, sebagaimana saya tulis dalam tulisan sebelum ini, amanah dakwah menjadi pengingat dan nasihat terbaik supaya kita terus memperbaiki diri. Continue reading 

Amanah: Sahabat Terbaik

21 May
Kemuslimahan and Friends

Kemuslimahan and Friends

Malam ini, dunia seperti lebih tenang dari biasanya. Masih terukir senyum para sahabat muslimah di Mushala Lantai 2 Gedung B tadi siang. Senyum penuh semangat untuk melestarikan Al-Qur’an. Lalu tanpa kami duga, siang tadi juga, kami sepakat untuk membentuk komunitas pecinta Al-Qur’an untuk muslimah, yang kemudian kami beri nama: KOMPAQ. Tadi siang, aku sadar betul, berada di antara saudara-saudara yang bersemangat menuju kebaikan itu nikmat luar biasa, menenteramkan.

Aku juga tersenyum mengingat ekspresi bahagia sahabat Muslimah yang hadir pada Keputrian Jumat, 26 April 2013 kemarin. Ada wajah-wajah antusias saat aku bercerita tentang isi buku “Be A Great Muslimah” karya Teh Pewski. Ada pula yang berebut mengantri ingin meminjam buku tersebut. Aku bahagia ketika inspirasi menjadi rangkaian domino tanpa ujung. Ah ya, ada juga yang dengan jleb mengatakan, “ah kirain bukunya Teh Himsa yang dibedah hari ini?”. Pertanyaan itu lagi-lagi ‘menampar’ saya. InsyaAllah. Bismillah. Ditunggu. :)

Aku juga merenung mengingat pelajaran-pelajaran dalam setiap Liqa’ yang kemudian secara tidak sadar membawaku antusias mencari tahu kisah-kisah sahabat, membaca buku-buku islami, mempelajari hal-hal yang dulu tak terpikirkan, dan menyadari betapa pentingnya menghafal ayat-Nya. Memang terlambat, tapi aku bersyukur masih diberi kesadaran itu.

Semua renungan itu kemudian membawaku untuk menarik satu premis: semua berawal dari amanah yang diberikan padaku Juli 2012 lalu. Continue reading 

#GamusStory Menjadi Muslimah Bersyukur di SBC

6 May

“Sebenar-benar nikmat adalah nikmat iman dan Islam..”

 

Sabtu, 4 Mei 2013, menjadi hari yang berbeda untuknya. Rambutnya yang biasanya terurai, hari itu tertutup dengan rapi oleh jilbab merah. Sahabat-sahabat Kemuslimahan yang lain langsung menghambur memeluknya. Kejutan pertama di acara Smart and Beauty Class, sebuah program kerja dari Divisi Kreasi dan Olahraga Departemen Kemuslimahan, Divisi yang dipimpinnya. Masih ada kejutan lain yang akhirnya membuat seluruh pasang air mata para muslimah tak tertahan untuk keluar dari lakrimalnya. Cerita yang semoga membuat kita semakin bersyukur atas iman dan Islam yang kita punya. Cerita itu semakin lengkap disertai dengan kisah motivasi dan keceriaan para muslimah yang hadir. Untuk sahabat yang berhalangan hadir, semoga cerita berikut ini bisa mengabadikan kisah inspiratif itu.

Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom

Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom

***


“Himsa, boleh keluar sebentar?” panggilnya usai rapat rutin Kemuslimahan Selasa lalu.

Aku keluar mengikutinya.

“Untuk SBC nanti, aku boleh cerita kisahku yang itu?”

Sejujurnya aku terkejut. Kisah yang mungkin hanya diketahui oleh segelintir orang, yang sebelumnya selalu dia minta padaku untuk benar-benar menjaganya, akan diceritakannya kepada banyak orang.

Aku tersenyum, “Kalau kamu siap tak apa. Menceritakan masa lalu itu memang tak pernah mudah. Tapi insyaAllah kisahmu menginspirasi banyak orang.”

Dia mengangguk sambil tersenyum.

Kurang lebih begitu sekilas pembicaraan kami minggu lalu. Tidak persis, tapi insyaAllah tidak mengubah maksud. Pembicaraan itu menjadi pengantar yang bagiku sendiri, meskipun tidak mengalaminya secara langsung kisahnya, turut merasa lega atas keberanian yang dimilikinya. Kepala Divisi yang satu ini, diam-diam memang menginspirasiku. Membuatku tak sabar menunggu hari Sabtu tiba. Continue reading 

Surat (Terakhir) untuk Bulan

2 May

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala jenak-jenak rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas segala rindu bertumpuk yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bersyukurlah, rindu tak sempat memberdirikan kita di koordinat bernama pertemuan. Mungkin, itulah bentuk penjagaan-Nya. Continue reading 

Komunikasi Digital dan Kenangan yang Tak Terlupakan

26 Apr
sumber gambar: dvanol.blogspot.com

sumber gambar: dvanol.blogspot.com

Bagi orang-orang melankolis, perkembangan komunikasi digital tentu sangat menyenangkan untuk bernostalgia. Melihat foto-foto masa lalu, lagu kenangan, atau video rekaman di suatu masa terkadang bisa membuat kita tersenyum bahkan menangis tergerus rindu pada masa yang telah lewat itu. Apalagi, adanya data dalam bentuk digital semakin memudahkan proses penyebaran data tersebut. Hal tersebut didukung pula dengan perkembangan new media. Mau tidak mau, kenangan yang ter-digitalisasi pun juga turut tersebar dalam media yang disebut new media ini. Tidak hanya menyenangkan, fenomena ini ternyata juga memiliki dampak psikologis terhadap pemilik kenangan itu sendiri.

Seperti kita tahu, dalam komunikasi digital digunakan teknologi berbasis sinyal elektrik komputer dan menggunakan sistem bilangan biner. Bilangan biner inilah yang akan membentuk kode-kode yang mempresentasikan suatu informasi tertentu, sehingga menyebabkan data digital memiliki beberapa sifat, seperti: mudah diubah dan diadaptasi, dapat disimpan dalam ruang fisik yang kecil, dapat dikompres saat diperlukan, dan tentu saja mudah dibagi dan dipertukarkan antara sejumlah besar pengguna secara simultan lintas batas ruang dan waktu.

Lalu, apa hubungannya dengan new media? New media atau yang bisa diartikan media baru, pada dasarnya merupakan sebuah istilah yang menggambarkan media yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan internet. Termasuk di dalamnya blog, social forum, social media, website, dan sebagainya. New media inilah yang kini menjadi media utama dalam penyebaran informasi digital.

Lihat saja, sharing atau sekadar bertukar informasi digital di era ini sudah lazim dilakukan. Foto-foto diunggah di facebook, twitter, instagram, bahkan juga blog seperti tumblr dan wordpress serta banyak akun sosial media lainnya. Siapa pun bisa melakukannya selama ia memiliki koneksi internet dan akun media tersebut. Menyenangkan memang ketika bisa berbagi foto, lagu, atau video di media-media yang disaksikan oleh orang banyak.

Tidak hanya itu, perkembangan komunikasi digital pelan-pelan juga bisa membuat manusia seakan berada dalam mesin waktu. Adanya fasilitas baru facebook yang disebut timeline semakin membuat orang-orang melankolis betah berlama-lama di depan gadget masing-masing untuk mengenang foto, video, atau sekadar status update di masa yang lalu. Cukup mengetik tahun dan bulan yang ingin dilihat, para pengguna facebook bisa menikmati koleksi foto, video, status, atau aktivitas lain di facebook yang diunggah di masa yang lalu. Sekali lagi, hal ini memang sering menyenangkan. Bahkan, secara singkat bisa disimpulkan bahwa perkembangan komunikasi digital ini sangat asyik untuk berbagi dan bernostalgia.

Namun, sayangnya, adanya hal ini juga bisa menjadikan kita bersedih bahkan dalam level yang cukup parah bisa menyebabkan trauma. Sadarkah kita penyebaran informasi digital di new media ini semakin berkembang dan semakin susah untuk dikendalikan? Continue reading 

Memaknai Euphoria Hari Kartini

21 Apr
Kartini

Kartini

Terlepas dari pertanyaan, “Mengapa ada hari Kartini tapi tidak ada Hari Dewi Sartika atau Hari Cut Nyak Dien? Toh mereka punya perannya masing-masing yang tak kalah menakjubkan?”, saya mencoba untuk masuk ke dalam euphoria Hari Kartini yang bahkan menjadi TTWW di twitter hari ini. Ya, saya mencoba memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh tiap tanggal 21 April. Bukan, saya tidak akan ikut protes soal siapa tokohnya, tapi pada esensi Hari Kartini yang kerap kali dimaknai sebagai hari lahirnya emansipasi wanita di negeri ini. Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Kartini?

Tak bisa dipungkiri, surat-surat RA. Kartini memang memiliki andil sehingga perempuan-perempuan masa kini memperoleh hak untuk bersekolah dan merasakan pendidikan. Suara-suara RA. Kartini yang tertuang dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” kemudian menjadi pembenaran atas maraknya emansipasi wanita dan kampanye kesetaraan gender serta isu-isu feminis lainnya yang kini ramai diperbincangkan.

Emansipasi wanita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Sayangnya, emansipasi kini menjadi topeng bagi para wanita untuk menuntut kesamaan hak dengan laki-laki dalam berbagai aspek. Mereka seakan-akan bersaing dengan laki-laki dalam bidang apapun. Tanpa disadari bahwa bagaimana pun laki-laki dan perempuan memanglah berbeda. Ya, secara kedudukan mereka memang sama dan setara, tapi Tuhan sudah membekali laki-laki dan perempuan dengan keistimewaan masing-masing, sepaket dengan hak dan kewajiban masing-masing yang—lagi-lagi—tidak bisa disamaratakan.

Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh RA. Kartini? Berikut salah satu kutipan surat beliau dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat RA. Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Nah, silahkan simpulkan sendiri. RA. Kartini ingin agar kaum perempuan belajar lebih banyak agar ia mahir dalam menjalankan kewajibannya, yaitu kewajiban kodrati seorang perempuan: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama, bukan menjadi pesaing laki-laki. Bukankah begitu juga yang diatur dalam Islam? :)

“Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Semoga realitas emansipasi wanita yang kini berjalan tidak membuat RA. Kartini menjadi sedih. Seharusnya momen ini bisa menjadi pengingat bagi kita, kaum wanita, untuk lebih menyadari peran dan tanggung jawab kita. Saya sendiri memaknai Hari Kartini dengan mencoba menumbuhkan kesadaran bahwa segala keleluasaan yang didapat perempuan sekarang ini adalah untuk memaksimalkan peran kita sebagai perempuan: menjadi Ibu, sekolah pertama generasi emas.

Bagaimana denganmu? :)

Pendapat saya tentang emansipasi wanita bisa dibaca di sini. Mohon koreksi jika ada kesalahan. Selamat berkarya, Muslimah :)

Berbahagialah Wahai Muslimah, tak perlulah engkau risau untuk menjadi sama dengan kaum Adam, engkau itu istimewa.

Islam begitu menghormati wanita, untuk itulah ada perintah berhijab. Wanita itu mahal sehingga Islam terlalu sayang jika keindahan tubuh mereka dapat disaksikan oleh siapa pun secara cuma-cuma. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena Allah menganugerahkan sifat penyayang yang lebih untuk kaum mereka. Bahkan, seorang wanita yang sholihah itu lebih baik dari seribu lelaki sholeh. Bahkan dalam suatu hadist Nabi disebutkan, “Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.” Allah juga memberikan jalan yang begitu indah untuk para wanita agar bisa menggapai surga. “Wanita yang taat dan berkhidmat pada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga.” Ya, sebegitu istimewanya seorang wanita dalam islam.

 

Pojok Biru 2,

21 April 2013

19.34 Waktu Bagian Cinta Muslimah

(Kalau boleh menjawab mengapa ada Hari Kartini tapi tidak ada Hari lain-lain? Mungkin saja karena Kartini menulis, sedang kita tahu apa yang ditulis akan terkenang dan apa yang terucap saja akan hilang)

Apapun Galaunya, Al-Qur’an Obatnya

20 Apr

An-NurAda yang tetiba membuat hati berdesir, sakit atas rindu atau teringat kenangan menyakitkan. Sakit atas fitnah atau pengkhianatan tak terduga. Sakit atas himpitan kesulitan atau kemudahan yang melenakan. Sakit atas kehilangan yang tiba-tiba. Sakit atas terkaan-terkaan yang seakan-akan pasti terjadi, padahal belum tentu. Hati berdesir, resah. Melakukan apapun tetiba terasa berat. Maka, bersyukurlah, jika saat seperti itu kita rasakan, Allah lah tempat kembali. Dan Al-Qur’an lah sebaik-baik petunjuk.

Ya, Al-Qur’an juga Al-Furqan, Al-Huda, sekaligus Annur (cahaya) untuk hati yang diliputi gelap oleh berbagai kegalauan. Ya, Al-Qur’an. Kumpulan lembaran berisi huruf-huruf ajaib, langsung diturunkan kepada Sang Utusan Terakhir melalui Jibril. Kumpulan alphabet berbahasa Arab sarat makna dan bumbu seni yang teramat syahdu. Tidakkah bergetar mendengarnya?

Aku sendiri tertegun menyaksikan keajaiban demi keajaiban yang disuguhkan Al-Qur’an dalam hidupku. Bagiku, ia adalah teman terbaik, pengingat terbaik. Bagaimana tidak? Dulu sekali, sebelum aku memutuskan untuk memilih IM Telkom sebagai pilihan tempatku menuntut ilmu, melalui Al-Qur’an, Allah sudah menjawab kegalauan yang saat itu kurasakan melalui ayat-Nya.

“Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).” QS. Annisa: 45.

Benar, Allah sungguh lebih mengetahui. Tiga tahun berjalan, aku tahu betul mengapa Allah menempatkanku di sini, dengan berbagai latar permasalahan yang kualami saat itu. Ayat itu muncul pertama kali saat aku menangis atas berbagai keadaan yang saat itu memaksaku harus memilih.

Bukan sekali saja. Berkali-kali. Beberapa bulan lalu, saat aku dihadapkan pada suatu kesedihan atas suatu kenyataan yang membias dari harapan, lagi-lagi, Al-Qur’an menjadi penyejuk untuk hati yang gundah. Firman-Nya yang menggetarkan hati justru memintaku untuk bersyukur karena kesedihan akan segera sirna, jika Allah menghendaki. Ayat di bawah ini mengingatkanku untuk memohon kepada Allah agar menghilangkan kesedihan yang saat itu terasa begitu menyesakkan dada. Continue reading 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,978 other followers