Hai, Anak Kosan.. Manajemen Uang itu Tidak Sama Dengan Ngirit Uang Makan!

Hai teman-teman seperjuangan yang merasa merantau untuk menuntut ilmu, tinggal di kosan, memulai hidup mandiri, dan tentunya jauh dari orang tua. Izinkanlah hari ini saya bercerita (atau lebih tepatnya nyerocos) tentang sesuatu hal yang semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua, khususnya anak kosan. Begini ceritanya..

Siapa di sini anak kosan yang belum pernah sakit? Hampir semuanya pernah. Penyakit yang paling rajin PDKT kepada anak kosan itu: Typus. Ngaku aja deh, siapa yang udah pernah sakit Typus? Dulu, saya sombong sekali. Makan sesuka saya, sehari sekali pun sering, dengan menu seadanya, seperti: telur atau mie instant atau sarden instant. Apalagi saya tidak terlalu suka makan buah. Saya lebih suka membeli jajanan macam cireng, cilok, baso cuanki dan lain-lain daripada membeli makanan berat. Hehehe. Read more

“Selamat Ulang Tahun, Ibu”

“Selamat ulang tahun, Ibu.”

Aku sedikit terbata-bata mengatakannya. Aku tahu, itu terdengar aneh bagimu. Mana pernah ada tradisi ulang tahun di keluarga kita, walaupun hanya sekadar sebuah ucapan. Aku tahu, tidak ada pula tradisi itu dalam ajaran agama yang kauajarkan. Tapi, biarkan. Sekali ini saja, Ibu, di usiamu yang ke-43, aku mengucapkan kalimat itu. Bukan tentang tradisi, bukan tentang esensi kalimat ‘selamat ulang tahun’ itu sendiri, semata-mata hanya karena aku ingin engkau merasakan seperti yang ibu-ibu lain rasakan dari anaknya, sebuah ucapan selamat dari anaknya yang jauh darinya karena sedang menuntut ilmu.

“Aaalah, inget aja.” suara Ibu tersipu malu di balik telepon. Ada nada bahagia yang juga terbata di sana. Sejenak, ada perasaan canggung merambati hati kami. Read more

Salahkan, Benarkan

Salahkan saja aku,

seperti bunga yang layu walau terairi

seperti foto yang menyimpan senyummu tapi tak bergerak

seperti layar televisi yang menyala tapi tak kaulihat

seperti kunci yang tak mau membuka pintu tanpa sebuah tangan

seperti atap yang menghalangi langit malam

seperti itu.

Salahkan saja aku,

karena aku masih saja hanya seperti itu.

Benarkan aku, Read more

Huruf-Huruf

Tentang huruf-huruf yang memperpanjang malam itu, biar hanya aku yang tahu. Biar waktu tidak memperpanjang juga semuanya.

Tentang simpul demi simpul yang kaurangkai dengan indah dalam berpilin-pilin frase itu, biar hanya aku yang tahu. Biar aku belajar dari pola-pola yang kaugunakan.

Tentang energi antah berantah yang kaucipta dari huruf-huruf itu, biar hanya aku yang tahu. Rasanya ini menyesakkan pula, seperti ingin kumuntahkan dalam simpul-simpul yang sama, tetapi huruf-huruf yang berbeda.

Biarkan, sekali ini saja, aku membagi cerita-cerita tentang huruf-huruf yang kaupenakan itu. Biarkan sekali saja, untuk cerita ini, aku menjadikan huruf-hurufmu tidak hanya kutahui. Biarkan sekali saja, malam lebih panjang dari yang biasa telah kauperpanjang dengan huruf-hurufmu. Hanya satu saja.

Huruf-huruf itu akan terikat dalam simpul-simpul berpola indah, yang menggetarkan hati ketika dibaca, yang menggempakan jiwa ketika merasakannya. Karena engkau melahirkan huruf-huruf itu dari rahim kejujuran yang terpilin dalam plasenta ilmu yang kaupunya.

Maka, sejenak saja, setelah dari tadi tentang huruf-huruf memenuhi kepalaku dan meluapkan energi dahsyatku, aku ingin mengatakan, “Jangan salahkan aku, jika aku semakin mencintai huruf-huruf, karena huruf-hurufmu.”

Pojok Biru 2

13-02-2012

00.12 WHH

untuk huruf-huruf yang berjajar menginspirasi.

Jika Tak Lagi Biru..

Mengapa? Aku tak tahu mengapa aku justru bertanya mengapa. Jika pada langit aku sudah jatuh cinta, maka bagaimana bila aku mengenal biru yang lain? Maka bagaimana jika aku berhenti menjadi bulan? Lalu aku menjadi pantai untuk birunya laut. Atau menjadi lebah untuk kelopak birunya mawar. Maka bagaimana pula bila bahkan aku mengenal selain biru? Yang menenteramkan hatiku. Yang menenangkan intuisi-intuisi negatifku tentang sebuah perjalanan. Read more

Aku, Manusia yang Kerdil Ilmu

Tuhan, Engkau selalu mengizinkanku untuk bertanya kan? Gratis kan? Pasti. Maka izinkan aku bertanya tentang semua diorama di otakku atas kehidupan ini. Atas semua kisah yang menurutku bertutur kembali tentang sebuah masa yang lalu, saat ini, atau masa depan. Hanya satu saja pertanyaanku. Bolehkah aku berubah menjadi orang lain?

Siapa yang tertawa? Siapa yang mencibir? Silahkan. Bertanya kepada Tuhan itu gratis kan? Maka bolehlah aku bertanya, dengan pertanyaan sekonyol itu. Iya, aku bertanya tentang bolehkah jika aku menjadi orang lain. Karena saat ini, aku–entah mengapa–sedang ingin menjadi orang lain. Aku ingin menjadi orang lain yang lebih baik, yang begitu tinggi ilmunya, yang tidak menyerah pada satu keterbatasannya. Karena rasanya, otakku sudah terlalu tumpul, bahkan berkarat untuk memulai lagi semuanya. Apalagi, asahan pisau untuk otakku itu sulit kutemukan di sini, tidak seperti di tempat mereka berada. Read more

Apa yang terjadi jika..

Apa yang terjadi?

Jika laut tanpa pantai

sungai tanpa hulu

tanah tanpa bebatuan

bumi tanpa udara

api tanpa hangat

atau gerimis tanpa rintik

 

Apa yang terjadi?

Jika musik tanpa suara

lagu tanpa nada

puisi tanpa kata

buku tanpa halaman

atau pena tanpa tinta

 

apa yang terjadi pada mereka?

Aku tak tahu

tapi mungkin saja

itu hampir mirip

seperti aku tanpa kamu

 

 

#eaaa agak nggombal :p

8 Februari 2012

21.44 WHH

Apakabarrobokop?

Selalu, robokop menjadi metafora paling indah [selain langit]. Ah, sesungguhnya bukan pula indah. Tapi menyebalkan. Robokop selalu menyebalkan. Ia diam. Hanya bergerak. Kadang-kadang bisa tersenyum. Tapi tetap saja, aku tak mengerti arti senyumnya. Robokop itu, bagaimana pun tetap menyebalkan. Tapi, ia terlalu baik hati.

Robokop itu, mengapa masih saja seperti itu? Yang lebih menyebalkan lagi, ia bahkan bisa membuatku menjadi robokop pula saat berada di dekatnya. Lalu sampai kapan robokop akan mempunyai perasaan? Atau jangan-jangan, energi listrik yang mengalir di tubuhnya [juga di tubuhku] adalah semua berisi perasaan? Yang menjadikannya diam menyebalkan seperti itu. Read more

Tanda

Saya lebih suka koma (,) daripada titik (.)

Saya lebih suka tanda tanya (?) atau titik-titik (…) daripada tanda seru (!)

Tapi suatu saat saya akan membutuhkan semuanya, termasuk yang tidak saya sukai itu.. Begitupun hidup.. Kita harus menjalaninya tak peduli suka atau tidak karena bukan ukuran suka atau tidak dari kita yang hakiki.. Allah sudah memiliki takaran yang tepat untuk hamba-Nya.. Oke, just do it well.. :) –azaleav- Read more

Blog Walking

Membaca adalah salah satu jurus ampuh untuk meningkatkan energi menulis.

Hari ini saya melakukan blog walking. Membaca blog teman-teman. Membaca tulisan-tulisan mereka. Kadang tertawa sendiri, kadang juga merenung. Ya, melalui tulisan mereka, saya bisa melihat mereka dari sisi yang berbeda. Dan itu sungguh menyenangkan.

Menulis memang sesuatu yang sangat unik ya. Terkadang seseorang hanya ingin menulis, melepaskan logika dalam akalnya, menyampaikan rasa dalam hatinya. Kadang tidak peduli akan sebuah makna. Tapi tanpa mereka sadar, saat itulah justru para pembaca mendapat makna dari apa yang mereka tuliskan. Entah makna yang seperti apa. Aku selalu menyebutnya, undefinedthings. Sungguh, menulis seperti itu sangat menyenangkan.

Kalau boleh mengkopi tulisan salah seorang teman dalam blognya, ia menulis seperti ini:

“Merasa lepas saat menulis, tak berpikir logika ini menolak atau menerima. Langkahkan jari diatas tuts2 hitam dengan label putih. Layar pun terisi dengan bongkahan bongkahan huruf yang tak bermakna. Entah menyampaikan pesan atau tidak, tapi inilah rasanya lepas. Tak perlu banyak pertimbangan. Just go ahead, hidup ini pun terasa lebih ringan.” cahmaths.wordpress.com

Ahaa, terima kasih, Kawan. Tulisanmu itu mengingatkanku untuk terus menulis selepas mungkin, apapun isinya, tak perlu banyak pertimbangan. Benar pula kata Bang Tere. Tuliskan saja, karena siapa tahu, di ujung sana, atau di belahan sana, ada seseorang yang bangkit dari sedihnya karena membaca tulisan kita. Tuliskan saja, walaupun bagimu itu tidak penting, sungguh sangat mungkin akan ada seseorang yang tersenyum ketika membaca kalimat demi kalimat yang kita tulis. Tuliskan saja. Tak usah pedulikan jumlah pengunjung, pembaca, like, komentar, dan teman-temannya. Tuliskan saja. Just go ahead..

Tetangga Langit,

7 Februari 2012

7.59 WHH (Waktu Hape Himsa)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 316 other followers